Setiap anak berhak menjadi bagian dari lingkungan belajar
Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar, bermain, berinteraksi, dan berkembang.
Perbedaan kemampuan, kondisi kesehatan, disabilitas, bahasa, latar belakang keluarga, atau cara belajar tidak boleh menjadi alasan untuk mengucilkan anak.
Pendidikan inklusif berarti menciptakan lingkungan yang menerima keberagaman anak.
Bukan anak yang harus selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Lingkungan juga perlu berubah agar setiap anak dapat berpartisipasi.
Inklusi bukan sekadar berada dalam satu ruangan
Seorang anak dapat berada di kelas yang sama dengan anak lain tetapi tetap tidak benar-benar dilibatkan.
Misalnya, anak hadir tetapi:
tidak pernah diajak bermain;
tidak mendapat kesempatan berkomunikasi;
selalu dipisahkan ketika kegiatan berlangsung;
tidak mendapat alat atau bantuan yang dibutuhkan;
dianggap tidak mampu sebelum mencoba; atau
hanya menjadi pengamat.
Keadaan seperti itu belum mencerminkan inklusi yang bermakna.
Inklusi berarti anak hadir, berpartisipasi, mempunyai hubungan, belajar, dan merasa menjadi bagian dari kelompok.
Setiap anak membawa perbedaan
Tidak ada dua anak yang persis sama.
Anak dapat berbeda dalam:
cara berkomunikasi;
kemampuan bergerak;
perhatian;
minat;
bahasa;
kemampuan memahami instruksi;
cara merespons lingkungan;
kebutuhan sensorik;
kecepatan belajar; dan
cara berinteraksi dengan orang lain.
Perbedaan tersebut merupakan bagian dari keberagaman manusia.
Tujuan pendidikan bukan menghapus perbedaan.
Tujuannya adalah membantu setiap anak berkembang dan berpartisipasi.
Jangan menunggu anak menjadi “siap” untuk diterima
Kadang-kadang anak dianggap harus mencapai kemampuan tertentu sebelum boleh mengikuti kegiatan bersama.
Pendekatan seperti ini dapat membuat anak terus-menerus menunggu kesempatan.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Apa yang dapat kita ubah agar anak dapat ikut sekarang?”
Penyesuaian dapat dilakukan pada:
kegiatan;
alat;
waktu;
ruang;
komunikasi;
cara memberikan instruksi; atau
dukungan orang dewasa.
Anak berhak mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi sambil terus berkembang.
Lihat hambatan, bukan hanya keterbatasan anak
Ketika anak kesulitan mengikuti kegiatan, orang dewasa sering langsung melihat kekurangan pada anak.
Padahal, hambatan juga dapat berasal dari lingkungan.
Misalnya:
ruangan terlalu bising;
instruksi terlalu panjang;
meja tidak dapat digunakan anak;
kegiatan hanya menggunakan satu cara;
waktu terlalu singkat;
tidak tersedia bantuan visual;
aturan terlalu kaku; atau
anak tidak diberi kesempatan berkomunikasi dengan caranya sendiri.
Jika hambatan berasal dari lingkungan, lingkunganlah yang perlu diperbaiki.
Penyesuaian bukan keistimewaan
Sebagian anak membutuhkan penyesuaian agar dapat mengikuti kegiatan bersama.
Misalnya:
waktu tambahan;
bantuan visual;
posisi duduk tertentu;
pilihan alat yang berbeda;
kegiatan yang disederhanakan;
ruang yang lebih tenang;
alat bantu;
cara komunikasi alternatif; atau
bantuan orang dewasa.
Penyesuaian bukan berarti memberi keuntungan yang tidak adil.
Tujuannya adalah memberikan kesempatan yang lebih setara.
Tujuannya tetap sama, caranya dapat berbeda
Anak dapat mencapai tujuan belajar melalui cara yang berbeda.
Misalnya, tujuan kegiatan adalah anak mengenali warna.
Sebagian anak dapat menunjuk.
Sebagian dapat menyebutkan nama warna.
Anak lain mungkin memilih kartu atau menggunakan cara komunikasi lain.
Yang penting adalah apakah anak dapat menunjukkan pemahamannya.
Tidak semua anak harus menunjukkan kemampuan dengan cara yang persis sama.
Bermain perlu dapat diakses semua anak
Bermain merupakan bagian penting dari pendidikan anak usia dini.
Karena itu, lingkungan bermain perlu mempertimbangkan keberagaman anak.
Tanyakan:
apakah semua anak dapat mencapai alat permainan;
apakah permainan dapat digunakan dengan lebih dari satu cara;
apakah anak yang membutuhkan waktu lebih lama tetap mendapat kesempatan;
apakah kegiatan terlalu bergantung pada kemampuan tertentu; dan
apakah teman sebaya dapat bermain bersama.
Permainan yang fleksibel membuka lebih banyak kesempatan untuk berpartisipasi.
Teman sebaya adalah bagian penting dari inklusi
Inklusi bukan hanya hubungan antara anak dan guru.
Hubungan antar-anak juga penting.
Pendidik dapat membantu anak:
bermain bersama;
berbagi kegiatan;
saling membantu;
memahami perbedaan;
berkomunikasi dengan berbagai cara; dan
tidak mengucilkan teman.
Hindari membuat satu anak selalu menjadi “anak yang harus dibantu”.
Anak juga perlu mempunyai kesempatan untuk membantu, memilih, memimpin, dan berkontribusi.
Hindari pelabelan di depan anak lain
Informasi mengenai kebutuhan anak harus dikelola dengan hormat.
Jangan mengatakan di depan kelas:
“Dia tidak bisa karena dia berbeda.”
atau:
“Kalian harus mengalah karena dia anak khusus.”
Kalimat seperti ini dapat memperkuat jarak sosial.
Jika anak memerlukan penyesuaian, lakukan dengan cara yang menjaga martabatnya.
Ajarkan kepada semua anak bahwa setiap orang dapat membutuhkan bantuan yang berbeda.
Gunakan bahasa yang menghormati anak
Cara orang dewasa berbicara dapat memengaruhi cara lingkungan memandang anak.
Hindari bahasa seperti:
“Anak ini beban.”
“Dia tidak mampu mengikuti.”
“Dia paling bermasalah.”
Gunakan bahasa yang lebih konkret:
“Anak membutuhkan bantuan visual untuk mengikuti instruksi.”
atau:
“Anak lebih mudah berpartisipasi ketika kegiatan dilakukan dalam kelompok kecil.”
Bahasa seperti ini membantu kita fokus pada dukungan yang dibutuhkan.
Jangan menyamakan diagnosis dengan kemampuan
Jika seorang anak memiliki diagnosis atau kondisi tertentu, diagnosis tersebut tidak menjelaskan seluruh kemampuan anak.
Dua anak dengan diagnosis yang sama tetap dapat mempunyai:
kemampuan berbeda;
minat berbeda;
cara berkomunikasi berbeda;
kebutuhan berbeda; dan
kekuatan berbeda.
Kenali anak sebagai individu.
Jangan menentukan batas kemampuannya hanya berdasarkan label.
Anak tanpa diagnosis juga dapat membutuhkan dukungan
Dukungan tidak harus menunggu diagnosis.
Jika seorang anak kesulitan mengikuti kegiatan, pendidik dapat mulai melakukan penyesuaian yang masuk akal.
Misalnya:
menyederhanakan instruksi;
memberikan contoh;
mengurangi gangguan;
memberikan waktu tambahan; atau
menggunakan bantuan gambar.
Dukungan dapat diberikan berdasarkan kebutuhan yang terlihat.
Dengarkan keluarga
Keluarga memiliki pengetahuan penting tentang anak.
Tanyakan:
apa yang disukai anak;
bagaimana anak berkomunikasi;
apa yang membuatnya tenang;
situasi apa yang sulit;
strategi apa yang sudah berhasil; dan
apa yang menjadi harapan keluarga.
Pendidik dan keluarga perlu bekerja sebagai mitra.
Hindari percakapan yang hanya berisi daftar masalah anak.
Mulailah juga dari kekuatan dan kemajuan.
Dengarkan anak
Anak juga memiliki pandangan mengenai pengalaman belajarnya.
Perhatikan:
kegiatan yang disukai;
tempat yang membuat nyaman;
orang yang ingin diajak bermain;
cara anak meminta bantuan;
hal yang ditolak; dan
tanda ketika anak mulai kewalahan.
Anak mungkin menyampaikan pandangannya melalui kata, gerakan, ekspresi, gambar, pilihan, atau cara komunikasi lain.
Semua bentuk komunikasi perlu dihargai.
Jangan memaksa partisipasi dengan cara yang menimbulkan tekanan
Inklusi bukan berarti semua anak harus melakukan semua hal pada saat yang sama.
Sebagian anak mungkin membutuhkan waktu untuk mengamati sebelum bergabung.
Anak lain mungkin membutuhkan istirahat.
Ada pula kegiatan yang perlu disesuaikan.
Tujuannya adalah meningkatkan partisipasi, bukan memaksa anak terlihat sama dengan yang lain.
Lingkungan yang fleksibel membantu semua anak
Banyak penyesuaian yang awalnya dibuat untuk satu anak ternyata bermanfaat bagi banyak anak.
Misalnya:
jadwal bergambar;
instruksi singkat;
ruang tenang;
pilihan tempat duduk;
kegiatan dengan beberapa tingkat kesulitan; dan
variasi cara berkomunikasi.
Lingkungan yang fleksibel biasanya lebih ramah bagi semua anak.
Perhatikan kebutuhan sensorik
Sebagian anak sangat peka terhadap:
suara;
cahaya;
sentuhan;
bau;
tekstur; atau
banyaknya orang.
Anak lain mungkin justru mencari lebih banyak gerakan atau rangsangan.
Jangan langsung menganggap perilaku tersebut sebagai kenakalan.
Amati pola.
Jika memungkinkan, sesuaikan lingkungan agar anak dapat tetap berpartisipasi tanpa mengalami tekanan yang tidak perlu.
Perilaku dapat menjadi bentuk komunikasi
Ketika anak menangis, menolak, berteriak, meninggalkan kegiatan, atau tampak gelisah, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana menghentikan perilaku ini?”
Tanyakan juga:
“Apa yang mungkin sedang dikomunikasikan anak?”
Anak mungkin:
lelah;
bingung;
kewalahan;
kesulitan berkomunikasi;
membutuhkan istirahat; atau
tidak memahami apa yang diharapkan.
Memahami kebutuhan membantu menentukan respons yang lebih tepat.
Jangan mengeluarkan anak hanya karena lebih sulit didampingi
Kesulitan dalam mendampingi anak tidak otomatis menjadi alasan untuk mengucilkannya.
Sebelum mempertimbangkan pemisahan, tanyakan:
penyesuaian apa yang sudah dilakukan;
apakah strategi sudah dicoba secara konsisten;
apakah keluarga sudah dilibatkan;
apakah pendidik membutuhkan dukungan tambahan;
apakah lingkungan dapat diubah; dan
apakah tenaga lain perlu dilibatkan.
Fokus pertama seharusnya adalah mengurangi hambatan.
Pendidik juga membutuhkan dukungan
Pendidikan inklusif tidak berarti guru harus mengetahui dan menangani semua hal sendirian.
Pendidik dapat membutuhkan:
pelatihan;
waktu perencanaan;
alat bantu;
dukungan tenaga lain;
konsultasi profesional;
kerja sama keluarga; dan
kebijakan lembaga yang mendukung.
Inklusi adalah tanggung jawab sistem, bukan beban satu guru.
Perhatikan transisi
Perubahan kegiatan dapat sulit bagi sebagian anak.
Misalnya:
dari bermain ke makan;
dari rumah ke sekolah;
dari kegiatan bebas ke kelompok;
dari dalam ruangan ke luar; atau
ketika guru berganti.
Bantu anak mempersiapkan perubahan.
Gunakan:
pemberitahuan;
gambar;
rutinitas;
lagu;
tanda tertentu; atau
penjelasan sederhana.
Transisi yang dapat diprediksi membantu banyak anak merasa lebih aman.
Jangan abaikan kekuatan anak
Ketika anak membutuhkan banyak dukungan, orang dewasa dapat terlalu fokus pada kesulitannya.
Tetap cari:
minat;
kemampuan;
hal yang disukai;
cara belajar yang efektif;
hubungan yang kuat;
kemampuan berkomunikasi; dan
keberhasilan kecil.
Kekuatan dapat menjadi jalan masuk untuk mendukung perkembangan lainnya.
Inklusi juga berarti mencegah diskriminasi
Anak dapat mengalami pengucilan karena dianggap berbeda.
Pendidik perlu merespons jika terjadi:
ejekan;
penolakan;
pelabelan;
perundungan; atau
perlakuan merendahkan.
Jangan menganggap hal tersebut sebagai bagian biasa dari tumbuh besar.
Lingkungan pendidikan harus mengajarkan bahwa setiap anak memiliki martabat yang sama.
Tinjau keberhasilan dari partisipasi anak
Jangan hanya menilai keberhasilan inklusi dari:
“Apakah anak dapat melakukan tugas yang sama dengan teman?”
Lihat juga:
apakah anak merasa aman;
apakah anak terlibat;
apakah mempunyai hubungan dengan teman;
apakah dapat berkomunikasi;
apakah memiliki pilihan;
apakah mendapat kesempatan belajar; dan
apakah hambatan semakin berkurang.
Partisipasi yang bermakna adalah salah satu tanda penting bahwa lingkungan menjadi lebih inklusif.
Enam pertanyaan untuk memeriksa lingkungan PAUD
Tanyakan:
Apakah setiap anak merasa diterima sebagai bagian dari kelompok?
Apakah kegiatan dapat diikuti dengan lebih dari satu cara?
Apakah anak yang membutuhkan penyesuaian mendapat dukungan?
Apakah perbedaan diperlakukan dengan hormat?
Apakah keluarga dan anak dilibatkan dalam menentukan dukungan?
Jika anak kesulitan, apakah kita terlebih dahulu memeriksa hambatan di lingkungan?
Jika jawabannya belum, masih ada ruang untuk memperkuat inklusi.
Yang perlu diingat
Pendidikan inklusif bukan sekadar menerima anak masuk ke satuan pendidikan.
Anak perlu benar-benar dapat hadir, bermain, belajar, berkomunikasi, membangun hubungan, dan berpartisipasi.
Jangan meminta semua anak menjadi sama.
Kurangi hambatan.
Sesuaikan lingkungan.
Gunakan kekuatan anak.
Libatkan keluarga.
Dengarkan anak.
Dan pastikan setiap anak mendapatkan pesan yang sama:
“Kamu adalah bagian dari sini.”