Setiap anak memiliki hak yang sama
Setiap anak memiliki hak yang sama.
Hak anak tidak bergantung pada siapa orang tuanya, tempat tinggalnya, keadaan ekonominya, jenis kelaminnya, agamanya, sukunya, bahasa yang digunakannya, kondisi kesehatannya, disabilitasnya, atau keadaan lainnya.
Tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan untuk menikmati haknya hanya karena dirinya dianggap berbeda.
Prinsip ini disebut non-diskriminasi.
Apa yang dimaksud dengan diskriminasi?
Diskriminasi terjadi ketika seorang anak diperlakukan tidak adil, dirugikan, dibatasi, atau dikecualikan karena suatu keadaan yang melekat pada dirinya atau berkaitan dengan keluarganya.
Diskriminasi tidak selalu berbentuk tindakan yang terang-terangan.
Kadang-kadang diskriminasi muncul melalui aturan, kebiasaan, sikap, atau lingkungan yang pada awalnya tampak sama bagi semua anak, tetapi pada kenyataannya membuat sebagian anak lebih sulit menikmati haknya.
Karena itu, kita perlu melihat bukan hanya aturan yang dibuat, tetapi juga dampaknya terhadap anak.
Perlakuan yang sama belum tentu adil
Memperlakukan semua anak dengan cara yang sama tidak selalu menghasilkan keadilan.
Anak memiliki kebutuhan dan keadaan yang berbeda.
Sebagian anak mungkin membutuhkan dukungan tambahan agar dapat menikmati haknya secara setara.
Misalnya, memberikan bahan pembelajaran yang sama kepada semua anak terlihat setara. Namun, anak dengan hambatan penglihatan mungkin membutuhkan bahan dengan format yang berbeda agar dapat belajar bersama anak lainnya.
Dalam keadaan seperti itu, memberikan penyesuaian bukan berarti memberikan keistimewaan.
Penyesuaian diberikan agar anak memiliki kesempatan yang setara.
Perbedaan bukan alasan untuk mengurangi hak anak
Anak dapat berbeda dalam banyak hal.
Mereka dapat memiliki bahasa, budaya, keyakinan, kemampuan, kondisi kesehatan, keadaan keluarga, atau pengalaman hidup yang berbeda.
Perbedaan tersebut tidak membuat satu anak lebih berharga daripada anak lainnya.
Orang dewasa perlu berhati-hati agar perbedaan tidak berubah menjadi alasan untuk mengejek, mengucilkan, merendahkan, membatasi kesempatan, atau memberikan perlakuan yang tidak adil.
Kenali diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari
Diskriminasi terhadap anak dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Misalnya:
anak tidak diajak mengikuti kegiatan karena memiliki disabilitas;
anak diejek karena kondisi ekonomi keluarganya;
anak dianggap kurang mampu hanya karena menggunakan bahasa atau dialek tertentu;
anak diperlakukan berbeda karena jenis kelaminnya;
anak dikucilkan karena agama atau keyakinannya;
anak dipermalukan karena kondisi kesehatan tertentu;
anak diberi cap buruk karena keadaan keluarganya; atau
anak kehilangan kesempatan hanya karena orang dewasa membuat asumsi tentang dirinya.
Beberapa bentuk diskriminasi mudah terlihat.
Sebagian lainnya lebih sulit dikenali karena sudah dianggap sebagai kebiasaan.
Hindari memberi cap kepada anak
Sebutan yang merendahkan dapat memengaruhi cara orang lain memperlakukan anak.
Ucapan seperti “anak nakal”, “anak bodoh”, “anak bermasalah”, atau sebutan lain yang merendahkan dapat membuat anak dinilai berdasarkan label, bukan berdasarkan keadaan yang sebenarnya.
Perilaku anak dapat dibahas dan diperbaiki tanpa merendahkan martabat anak.
Pisahkan antara anak sebagai pribadi dan perilaku yang sedang dilakukan.
Alih-alih mengatakan, “Kamu anak nakal,” orang dewasa dapat menjelaskan perilaku yang perlu diperbaiki dan alasan mengapa perilaku tersebut tidak tepat.
Perhatikan anak yang membutuhkan dukungan tambahan
Sebagian anak menghadapi hambatan yang lebih besar dalam menikmati haknya.
Mereka mungkin membutuhkan dukungan atau penyesuaian tambahan.
Misalnya:
anak dengan disabilitas;
anak yang menghadapi hambatan bahasa;
anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi;
anak yang tinggal di wilayah dengan akses layanan terbatas;
anak yang mengalami perubahan besar dalam kehidupan keluarganya; atau
anak yang menghadapi pengucilan dari lingkungan sosialnya.
Memberikan dukungan tambahan kepada anak yang membutuhkannya bukan berarti mendiskriminasi anak lain.
Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap anak benar-benar memperoleh kesempatan yang adil.
Non-diskriminasi di rumah
Keluarga dapat menerapkan prinsip non-diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya:
mendengarkan setiap anak dengan hormat;
tidak membanding-bandingkan anak secara merendahkan;
tidak membedakan kasih sayang berdasarkan prestasi;
mempertimbangkan kebutuhan masing-masing anak;
tidak membatasi kesempatan anak hanya karena jenis kelaminnya; dan
memberikan dukungan tambahan kepada anak yang membutuhkannya.
Adil bukan berarti semua anak selalu mendapatkan hal yang sama.
Adil berarti setiap anak mendapatkan dukungan yang dibutuhkannya untuk menikmati hak dan berkembang dengan baik.
Non-diskriminasi di satuan pendidikan
Satuan pendidikan perlu memastikan bahwa setiap anak mempunyai kesempatan untuk belajar, bermain, berpartisipasi, dan merasa diterima.
Guru dan pengelola dapat:
menggunakan bahasa yang menghormati semua anak;
mencegah perundungan dan pengucilan;
memberikan penyesuaian yang diperlukan;
menghindari pelabelan;
memastikan kegiatan dapat diikuti oleh sebanyak mungkin anak;
mempertimbangkan kebutuhan anak secara individual; dan
melibatkan keluarga ketika dukungan tambahan diperlukan.
Lingkungan yang inklusif membantu anak belajar bahwa perbedaan adalah bagian wajar dari kehidupan bersama.
Jangan hanya melihat niat
Diskriminasi tidak selalu dilakukan dengan sengaja.
Sebuah aturan dapat dibuat dengan niat baik, tetapi tetap menghasilkan dampak yang tidak adil bagi sebagian anak.
Karena itu, tanyakan bukan hanya:
“Apakah saya berniat membeda-bedakan?”
Tanyakan juga:
“Apakah keputusan ini membuat sebagian anak kehilangan kesempatan untuk menikmati haknya?”
Melihat dampak membantu orang dewasa mengenali ketidakadilan yang mungkin tidak disadari sejak awal.
Lima pertanyaan untuk memeriksa keadilan
Sebelum membuat aturan atau mengambil keputusan yang berdampak pada anak, tanyakan:
Apakah semua anak mempunyai kesempatan untuk menikmati haknya?
Apakah ada anak yang dirugikan karena keadaan dirinya atau keluarganya?
Apakah sebagian anak membutuhkan dukungan atau penyesuaian tambahan?
Apakah aturan ini menghasilkan dampak yang adil bagi anak yang berbeda-beda?
Apakah pandangan anak yang terdampak sudah didengar?
Jika ada anak yang tanpa alasan yang dapat dibenarkan kehilangan kesempatan menikmati haknya, keputusan tersebut perlu diperiksa kembali.
Jika anak mengalami perlakuan tidak adil
Dengarkan anak dengan tenang.
Jangan langsung menyalahkan atau meremehkan pengalamannya.
Cari tahu apa yang terjadi dan bagaimana perlakuan tersebut memengaruhi anak.
Jika diperlukan, libatkan pihak yang memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan.
Yang penting, jangan meminta anak menerima perlakuan yang merendahkan hanya karena hal tersebut sudah dianggap biasa.
Yang perlu diingat
Setiap anak memiliki martabat dan hak yang sama, tetapi setiap anak tidak selalu membutuhkan perlakuan yang persis sama.
Prinsip non-diskriminasi menuntut kita memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan untuk mengurangi hak anak.
Keadilan berarti setiap anak memiliki kesempatan nyata untuk merasa aman, dihormati, didengar, belajar, berpartisipasi, dan berkembang sesuai kebutuhan serta keadaannya.