Apa yang dimaksud dengan perundungan?
Perundungan adalah perilaku yang menyakiti atau merendahkan anak dalam hubungan yang tidak seimbang.
Perilaku tersebut biasanya terjadi berulang atau membentuk pola.
Ketimpangan kekuatan dapat muncul karena perbedaan usia, ukuran tubuh, kedudukan dalam kelompok, popularitas, jumlah orang, kemampuan, akses terhadap informasi, atau keadaan lainnya.
Anak yang menjadi sasaran mungkin merasa sulit menghentikan keadaan tersebut sendirian.
Karena itu, perundungan bukan masalah yang seharusnya dibebankan kepada anak untuk diselesaikan sendiri.
Tidak setiap konflik adalah perundungan
Anak dapat berselisih, bertengkar, atau berbeda pendapat.
Konflik seperti itu tidak selalu berarti perundungan.
Dalam konflik biasa, posisi anak dapat relatif seimbang dan keduanya masih mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau mempertahankan diri.
Pada perundungan, terdapat pola menyakiti dan ketimpangan kekuatan yang membuat anak yang menjadi sasaran lebih sulit melindungi dirinya.
Meski demikian, satu kejadian yang serius tetap harus ditangani.
Jangan mengabaikan tindakan berbahaya hanya karena belum terjadi berulang kali.
Perundungan dapat berbentuk fisik
Perundungan fisik dapat berupa:
memukul;
menendang;
mendorong;
mencubit;
merusak barang;
mengambil barang;
menghalangi jalan;
mengancam dengan tindakan fisik; atau
tindakan lain yang membuat anak merasa takut atau tidak aman.
Luka fisik bukan satu-satunya ukuran.
Ancaman atau tindakan yang membuat anak terus-menerus takut juga perlu diperhatikan.
Perundungan dapat berbentuk verbal
Perundungan verbal dapat berupa penghinaan, ejekan, julukan yang merendahkan, ancaman, atau komentar yang sengaja menyakiti.
Anak dapat menjadi sasaran karena penampilan, kondisi ekonomi, keluarga, disabilitas, kemampuan belajar, agama, suku, bahasa, jenis kelamin, atau keadaan lainnya.
Ucapan yang disebut “bercanda” tetap dapat menyakiti.
Jika hanya satu pihak yang tertawa sementara anak lain merasa dipermalukan atau takut, orang dewasa perlu memperhatikan keadaan tersebut.
Perundungan dapat berbentuk sosial
Perundungan tidak selalu dilakukan melalui tindakan fisik atau kata-kata secara langsung.
Anak dapat sengaja dikucilkan, dipermalukan, dijauhkan dari kelompok, atau menjadi sasaran penyebaran rumor.
Hubungan sosial dapat digunakan sebagai alat untuk menyakiti anak.
Bentuk seperti ini terkadang lebih sulit terlihat oleh orang dewasa.
Karena itu, perubahan hubungan pertemanan atau pengucilan yang berlangsung terus perlu diperhatikan.
Perundungan dapat terjadi di ruang digital
Perundungan digital dapat terjadi melalui media sosial, aplikasi percakapan, permainan daring, atau layanan digital lainnya.
Bentuknya dapat berupa:
mengirim pesan yang menghina atau mengancam;
menyebarkan rumor;
mengunggah foto atau video yang mempermalukan;
membuat akun untuk mengejek seseorang;
mengeluarkan anak dari kelompok daring secara sengaja untuk menyakitinya;
menyebarkan informasi pribadi; atau
mengajak orang lain menyerang seseorang secara daring.
Perundungan digital dapat terasa sangat berat karena informasi dapat tersebar dengan cepat dan tetap terlihat dalam waktu lama.
UNICEF mendefinisikan cyberbullying sebagai perundungan menggunakan teknologi digital dan mencakup perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan sasaran.
Perhatikan perubahan pada anak
Tidak ada satu tanda yang dapat memastikan bahwa seorang anak mengalami perundungan.
Namun, perubahan tertentu dapat menjadi alasan untuk mulai berbicara dengan anak.
Misalnya:
anak enggan pergi ke sekolah atau kegiatan tertentu;
anak tiba-tiba kehilangan teman;
barang anak sering hilang atau rusak;
anak menjadi lebih pendiam;
anak terlihat takut atau cemas;
pola tidur berubah;
muncul keluhan fisik berulang tanpa sebab yang jelas;
keterlibatan belajar menurun;
anak berhenti menggunakan perangkat atau media sosial secara tiba-tiba; atau
anak terlihat sangat terganggu setelah menerima pesan atau menggunakan internet.
Jangan langsung menyimpulkan.
Gunakan perubahan tersebut sebagai alasan untuk mendekati anak dengan tenang.
Mulailah dengan mendengarkan
Jika anak bercerita tentang perundungan, dengarkan terlebih dahulu.
Jangan langsung mengatakan:
“Abaikan saja.”
“Lawan balik.”
“Kamu terlalu sensitif.”
“Namanya juga anak-anak.”
Kalimat seperti itu dapat membuat anak merasa masalahnya tidak dianggap penting.
Gunakan tanggapan sederhana:
“Terima kasih sudah cerita.”
“Saya ingin memahami apa yang terjadi.”
“Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”
Kemudian dengarkan dengan tenang.
Jangan menyalahkan anak
Anak yang menjadi sasaran perundungan tidak bertanggung jawab atas tindakan orang yang menyakitinya.
Hindari bertanya:
“Memangnya kamu melakukan apa sampai mereka begitu?”
Pertanyaan mengenai kejadian tetap dapat diajukan untuk memahami keadaan.
Namun, jangan membuat anak merasa dirinya menjadi penyebab atau pantas menerima perundungan.
Tanggung jawab atas perilaku menyakiti berada pada orang yang melakukannya.
Periksa keselamatan anak
Tanyakan:
Apakah anak merasa aman sekarang?
Cari tahu apakah anak takut bertemu seseorang, diancam, dipukul, diperas, dikejar, atau menghadapi risiko lain.
Jika ada ancaman langsung terhadap keselamatan, perlindungan harus menjadi prioritas.
Jangan menunggu masalah menjadi lebih berat sebelum bertindak.
Jangan menyuruh anak membalas
Menyuruh anak memukul atau mempermalukan kembali pihak yang merundung dapat memperbesar konflik dan meningkatkan risiko.
Tujuan penanganan bukan memenangkan pertarungan.
Tujuannya adalah menghentikan perilaku yang membahayakan, melindungi anak, dan memperbaiki lingkungan.
Bantu anak mencari tindakan yang aman, seperti menjauh dari situasi berbahaya, mencari orang dewasa yang dapat dipercaya, atau menggunakan mekanisme pelaporan yang tersedia.
Jangan mempertemukan anak secara paksa
Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan meminta kedua anak duduk bersama lalu saling meminta maaf.
Jika terdapat ketimpangan kekuatan atau rasa takut, pertemuan paksa dapat membuat anak yang menjadi sasaran semakin tertekan.
Sebelum menggunakan pendekatan bersama, pertimbangkan keselamatan dan kesiapan setiap anak.
Permintaan maaf juga tidak boleh menjadi pengganti tindakan untuk menghentikan perundungan.
Catat pola yang terjadi
Jika perundungan berlangsung berulang, informasi dasar dapat membantu memahami polanya.
Catat seperlunya:
apa yang terjadi;
kapan dan di mana;
siapa yang terlibat;
apakah ada saksi;
tindakan apa yang sudah dilakukan; dan
bagaimana keadaan anak setelah kejadian.
Untuk perundungan digital, simpan informasi yang diperlukan secara aman jika memang dibutuhkan untuk pelaporan.
Jangan menyebarkan tangkapan layar secara luas.
Jika perundungan terjadi di sekolah
Sampaikan kekhawatiran melalui mekanisme yang tersedia di satuan pendidikan.
Jelaskan kejadian secara konkret.
Fokus pada keselamatan dan kebutuhan anak.
Tanyakan:
bagaimana sekolah akan menghentikan perilaku tersebut;
siapa yang akan memantau keselamatan anak;
bagaimana anak dapat meminta bantuan;
bagaimana privasi anak dijaga; dan
kapan keadaan akan ditinjau kembali.
Penanganan tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada anak agar “berdamai”.
Lingkungan juga perlu diperbaiki.
Jika perundungan terjadi secara digital
Bantu anak mengambil langkah yang aman.
Bergantung pada situasi, langkah tersebut dapat meliputi:
tidak membalas pesan yang menyerang;
menyimpan bukti yang memang diperlukan;
menggunakan fitur blokir;
menggunakan fitur laporan pada platform;
memperketat pengaturan privasi; dan
meminta bantuan orang dewasa yang dapat dipercaya.
Jangan menghukum anak dengan langsung mengambil seluruh akses digitalnya hanya karena ia menjadi sasaran.
Anak dapat merasa seolah-olah dirinya yang dihukum.
Fokuslah terlebih dahulu pada keselamatan dan pengurangan risiko.
Jangan menyebarkan bukti perundungan
Foto, video, tangkapan layar, atau pesan yang mempermalukan anak dapat menjadi semakin berbahaya jika terus diteruskan.
Jangan membagikan materi tersebut ke grup orang tua, grup kelas, atau media sosial untuk mencari pelaku atau mempermalukannya.
Gunakan hanya melalui jalur yang memang diperlukan untuk penanganan.
Melindungi anak berarti menghentikan penyebaran, bukan memperluasnya.
Bagaimana jika anak melihat perundungan?
Anak yang menyaksikan perundungan juga membutuhkan panduan.
Jangan mendorong anak melakukan tindakan yang membahayakan dirinya.
Ajarkan bahwa anak dapat:
tidak ikut menertawakan atau menyebarkan penghinaan;
mencari bantuan dari orang dewasa;
mendukung teman yang menjadi sasaran jika aman;
tidak meneruskan konten yang menyakiti; dan
melaporkan kejadian melalui cara yang tersedia.
Pengamat dapat membantu menghentikan perundungan tanpa harus menghadapi pelaku sendirian.
Bagaimana jika anak melakukan perundungan?
Anak yang melakukan perundungan tetap memiliki hak dan martabat.
Namun, perilakunya harus dihentikan.
Jangan langsung memberi label:
“Kamu anak jahat.”
Fokuskan pada perilakunya:
“Perilaku itu menyakiti orang lain dan harus berhenti.”
Cari tahu apa yang terjadi tanpa membenarkan tindakan tersebut.
Anak perlu:
memahami dampak perilakunya;
bertanggung jawab;
memperbaiki kerugian sejauh memungkinkan;
belajar cara berinteraksi yang lebih aman; dan
mendapat dukungan jika terdapat masalah yang ikut memengaruhi perilakunya.
Melindungi anak yang menjadi sasaran dan membantu anak yang melakukan perundungan untuk berubah bukan dua tujuan yang bertentangan.
Jangan mempermalukan anak yang melakukan perundungan
Mempermalukan pelaku di depan umum bukan cara yang baik untuk mengajarkan tanggung jawab.
Jangan menyebarkan nama atau fotonya di media sosial.
Jangan mendorong masyarakat melakukan serangan balasan.
Tindakan tetap perlu diberi konsekuensi yang jelas.
Namun, penanganan harus berorientasi pada penghentian perilaku, keselamatan, tanggung jawab, dan perubahan.
Perundungan sering membutuhkan tindakan pada lingkungan
Perundungan bukan hanya masalah antara dua anak.
Lingkungan dapat ikut mempertahankan perundungan jika:
ejekan dianggap biasa;
orang lain ikut tertawa;
laporan tidak ditanggapi;
ada kelompok yang sengaja dikucilkan;
aturan tidak diterapkan; atau
orang dewasa menganggap perundungan sebagai bagian normal dari pertumbuhan.
Karena itu, pencegahan perlu melibatkan keluarga, pendidik, pengelola layanan, dan kelompok anak.
UNESCO menganjurkan pendekatan menyeluruh dalam pendidikan, termasuk lingkungan kelas yang aman, aturan yang jelas, kolaborasi dengan keluarga, dan respons yang cepat terhadap kejadian.
Lima pertanyaan ketika anak mengalami perundungan
Tanyakan:
Apakah anak aman sekarang?
Apa yang sebenarnya terjadi dan apakah terdapat pola atau ketimpangan kekuatan?
Apa yang dibutuhkan anak agar dapat kembali merasa aman?
Siapa orang dewasa atau lembaga yang dapat membantu menghentikan keadaan?
Bagaimana memastikan tindakan yang diambil tidak mempermalukan atau menambah risiko bagi anak?
Pertanyaan tersebut membantu menjaga fokus pada keselamatan dan hak anak.
Yang perlu diingat
Perundungan bukan sesuatu yang harus diterima anak sebagai bagian normal dari tumbuh besar.
Jangan menyalahkan anak yang menjadi sasaran.
Jangan mendorong pembalasan.
Jangan mempermalukan anak yang melakukan perundungan.
Dengarkan, hentikan risiko, jaga privasi, libatkan pihak yang bertanggung jawab, dan pantau apakah keadaan benar-benar membaik.
Tujuan penanganan bukan sekadar menghentikan satu kejadian, tetapi menciptakan lingkungan tempat setiap anak dapat merasa aman dan dihormati.