Ketika anak memilih untuk bercerita
Ketika anak mengatakan bahwa seseorang telah menyakiti, mengancam, melecehkan, atau membuatnya merasa tidak aman, tanggapan pertama orang dewasa sangat penting.
Anak mungkin membutuhkan keberanian besar sebelum akhirnya berbicara.
Sebagian anak juga mungkin merasa takut, malu, bingung, atau khawatir tidak dipercaya.
Karena itu, jangan terburu-buru mencari seluruh detail kejadian.
Prioritas pertama adalah mendengarkan, memahami apakah anak aman, dan memastikan anak tidak menghadapi keadaan yang lebih berbahaya setelah bercerita.
Tetap tenang
Usahakan tidak menunjukkan reaksi yang membuat anak merasa semakin takut.
Mendengar cerita tentang kekerasan dapat membuat orang dewasa marah, sedih, terkejut, atau panik.
Perasaan tersebut wajar.
Namun, saat berbicara dengan anak, usahakan tetap tenang.
Reaksi yang sangat keras dapat membuat anak merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang salah atau membuat anak berhenti bercerita.
Berikan perhatian kepada anak, bukan kepada kemarahan kita terhadap orang yang diduga melakukan kekerasan.
Dengarkan sampai anak selesai
Biarkan anak menceritakan apa yang ingin disampaikannya dengan kata-katanya sendiri.
Jangan terburu-buru memotong pembicaraan.
Jangan mendesak anak untuk berbicara lebih banyak daripada yang ingin disampaikannya saat itu.
Anak tidak harus menceritakan semua hal dalam satu percakapan.
Mendengarkan dengan baik berarti memberi anak ruang untuk berbicara sesuai kemampuannya.
Tunjukkan bahwa cerita anak dianggap serius
Anak perlu mengetahui bahwa orang dewasa mendengarkannya.
Gunakan tanggapan sederhana.
Misalnya:
“Terima kasih sudah bercerita.”
“Saya mendengarkan.”
“Apa yang kamu ceritakan penting.”
“Saya akan membantu supaya kamu aman.”
Hindari tanggapan yang meremehkan seperti:
“Ah, mungkin kamu salah paham.”
“Jangan berlebihan.”
“Dia tidak mungkin melakukan itu.”
Komentar seperti itu dapat membuat anak merasa tidak dipercaya.
Jangan menyalahkan anak
Anak tidak bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya.
Hindari pertanyaan seperti:
“Kenapa kamu tidak lari?”
“Kenapa baru cerita sekarang?”
“Kenapa kamu pergi ke sana?”
“Kenapa kamu tidak melawan?”
Pertanyaan tersebut dapat terdengar seperti menyalahkan anak.
Anak mungkin diam karena takut, bingung, diancam, tidak memahami apa yang terjadi, bergantung kepada orang yang menyakitinya, atau tidak tahu kepada siapa harus meminta bantuan.
Fokuslah pada apa yang dibutuhkan anak sekarang.
Jangan menginterogasi
Orang dewasa yang menerima cerita anak tidak perlu melakukan penyelidikan sendiri.
Jangan meminta anak mengulang cerita berkali-kali.
Jangan memaksa anak memberikan rincian yang tidak ingin disampaikannya.
Hindari pertanyaan yang mengarahkan jawaban.
Misalnya, jangan berkata:
“Dia memukul kamu dengan benda itu, kan?”
Jika klarifikasi benar-benar diperlukan untuk memahami keselamatan anak, gunakan pertanyaan yang sederhana dan terbuka.
Tujuannya bukan mencari seluruh bukti.
Tujuannya adalah memahami apa yang perlu dilakukan agar anak tetap aman.
Jangan meminta anak membuktikan ceritanya
Jangan meminta anak menunjukkan luka, pesan, foto, video, atau bukti lain hanya karena kita ingin memastikan apakah ceritanya benar.
Jika ada informasi atau bukti yang memang perlu diamankan, penanganannya harus dilakukan dengan hati-hati sesuai kewenangan dan prosedur yang berlaku.
Jangan mengubah percakapan awal menjadi pemeriksaan.
Anak membutuhkan dukungan, bukan tekanan untuk membuktikan apa yang dialaminya.
Periksa apakah anak aman sekarang
Tanyakan pada diri sendiri:
Apakah anak berada dalam bahaya langsung saat ini?
Perhatikan apakah anak masih harus kembali kepada orang atau tempat yang membuatnya tidak aman.
Jika terdapat bahaya langsung, keselamatan anak menjadi prioritas.
Hubungi pihak atau layanan yang berwenang untuk memberikan pertolongan sesuai keadaan.
Jangan menunda tindakan keselamatan hanya karena seluruh informasi belum diketahui.
Jangan menghadapkan anak kepada orang yang diduga melakukan kekerasan
Jangan meminta anak berhadapan langsung dengan orang yang diduga menyakitinya untuk membuktikan cerita.
Jangan pula mengadakan pertemuan untuk “mengklarifikasi” keadaan dengan menempatkan anak dan orang tersebut dalam situasi yang sama.
Tindakan seperti itu dapat menimbulkan tekanan, intimidasi, atau risiko baru bagi anak.
Keselamatan anak harus lebih penting daripada keinginan orang dewasa untuk segera mendapatkan pengakuan atau penjelasan.
Jangan menjanjikan rahasia mutlak
Anak perlu mengetahui bahwa privasinya akan dihormati.
Namun, jika keselamatan anak terancam, mungkin ada informasi yang harus disampaikan kepada pihak yang dapat membantu.
Karena itu, jangan mengatakan:
“Saya janji tidak akan memberi tahu siapa pun.”
Lebih baik jelaskan:
“Saya akan menjaga ceritamu. Tetapi kalau kita membutuhkan bantuan supaya kamu aman, saya mungkin perlu berbicara dengan orang yang bisa membantu. Saya akan menjelaskan kepadamu apa yang akan dilakukan.”
Berikan penjelasan sesuai usia dan kemampuan anak.
Beri tahu anak apa yang akan terjadi berikutnya
Ketidakpastian dapat membuat anak semakin cemas.
Jika kita perlu menghubungi orang lain, jelaskan kepada anak.
Jika memungkinkan, beri tahu:
siapa yang akan dihubungi;
mengapa bantuan tersebut diperlukan;
informasi apa yang perlu disampaikan; dan
apa yang mungkin terjadi setelahnya.
Anak tidak harus mengendalikan seluruh proses.
Namun, anak berhak diperlakukan dengan hormat dan tidak dibiarkan dalam ketidakpastian jika informasi dapat diberikan kepadanya.
Jaga privasi anak
Cerita mengenai kekerasan terhadap anak adalah informasi sensitif.
Jangan menceritakannya kepada orang yang tidak perlu mengetahui.
Jangan menyebarkan nama, foto, video, rekaman suara, alamat, sekolah, atau informasi lain yang dapat mengungkap identitas anak melalui media sosial maupun grup percakapan.
Jangan menjadikan pengalaman anak sebagai bahan pembicaraan.
Informasi hanya perlu dibagikan kepada pihak yang memang membutuhkan informasi tersebut untuk menjaga keselamatan dan membantu anak.
Jangan menyebarkan foto atau rekaman kekerasan
Foto, video, atau rekaman yang berkaitan dengan kekerasan terhadap anak tidak boleh disebarkan untuk mencari simpati atau membuktikan bahwa kejadian benar-benar terjadi.
Penyebaran dapat memperluas pelanggaran privasi dan menambah beban bagi anak.
Jika suatu materi diperlukan untuk penanganan resmi, serahkan melalui jalur yang tepat kepada pihak yang berwenang.
Jangan meneruskannya melalui grup percakapan atau media sosial.
Catat seperlunya dengan hati-hati
Dalam keadaan tertentu, informasi dasar mungkin perlu dicatat agar tidak terlupakan.
Jika pencatatan diperlukan, pisahkan antara apa yang benar-benar dikatakan anak dan pendapat atau kesimpulan orang dewasa.
Jangan mengubah cerita anak agar terdengar lebih lengkap.
Catat seperlunya.
Jaga catatan tersebut sebagai informasi sensitif.
Tidak semua orang perlu mempunyai salinannya.
Cari bantuan yang tepat
Orang dewasa tidak harus menangani situasi kekerasan sendirian.
Bergantung pada keadaan, bantuan mungkin diperlukan dari layanan perlindungan anak, layanan kesehatan, satuan pendidikan, pekerja sosial, kepolisian, atau pihak lain yang mempunyai kewenangan dan kompetensi.
Pilih bantuan berdasarkan kebutuhan keselamatan anak.
Untuk keadaan yang kompleks, gunakan mekanisme rujukan yang tersedia.
Jangan menyerahkan penanganan kepada orang yang memiliki konflik kepentingan atau justru dapat meningkatkan risiko bagi anak.
Jika anak membutuhkan layanan kesehatan
Jika anak mengalami cedera, membutuhkan pertolongan medis, atau terdapat kekhawatiran terhadap kondisi kesehatannya, carilah layanan kesehatan yang tepat.
Jangan melakukan pemeriksaan tubuh anak sendiri untuk mencari bukti.
Tenaga kesehatan yang kompeten dapat menentukan pemeriksaan dan penanganan yang diperlukan.
Keselamatan, kesehatan, privasi, dan martabat anak harus tetap dijaga.
Jangan membuat anak terus-menerus mengulang cerita
Dalam proses pertolongan, anak mungkin bertemu dengan lebih dari satu pihak.
Usahakan agar anak tidak harus menceritakan pengalaman yang sama berulang kali tanpa alasan yang jelas.
Koordinasi antarorang atau layanan yang membantu anak penting untuk mengurangi beban yang tidak perlu.
Anak bukan sumber informasi yang harus terus-menerus diperiksa.
Anak adalah seseorang yang sedang membutuhkan perlindungan.
Tetap berikan dukungan setelah laporan dibuat
Mencari bantuan bukan akhir dari tanggung jawab terhadap anak.
Anak mungkin tetap merasa takut, malu, bingung, marah, sedih, atau khawatir tentang apa yang akan terjadi.
Terus berikan rasa aman dan dukungan yang sesuai.
Jangan terus-menerus menanyakan kejadian.
Berikan kesempatan kepada anak menjalani kegiatan sehari-hari secara aman.
Perhatikan kebutuhan anak tanpa membuat seluruh kehidupannya hanya berpusat pada pengalaman kekerasan.
Hindari memberi label kepada anak
Anak yang mengalami kekerasan tetaplah seorang anak dengan banyak bagian kehidupan.
Jangan menyebut anak dengan label yang melekatkan seluruh identitasnya pada pengalaman yang dialami.
Hormati martabatnya.
Anak tetap mempunyai hak untuk belajar, bermain, berteman, beristirahat, didengar, dan berkembang.
Pengalaman kekerasan tidak boleh menentukan seluruh identitas anak.
Enam langkah pertama yang perlu diingat
Ketika anak bercerita tentang kekerasan:
Tetap tenang.
Dengarkan tanpa menginterogasi.
Tanggapi dengan serius dan jangan menyalahkan anak.
Periksa apakah anak aman sekarang.
Jaga privasi dan jelaskan langkah berikutnya.
Cari bantuan dari pihak yang tepat jika diperlukan.
Langkah sederhana ini membantu mengurangi risiko anak mengalami tekanan tambahan setelah berani bercerita.
Yang perlu diingat
Tugas pertama orang dewasa bukan membuktikan apa yang terjadi. Tugas pertama adalah membantu memastikan anak aman dan didengar.
Jangan menginterogasi.
Jangan menyalahkan.
Jangan menyebarkan cerita anak.
Jangan menjanjikan rahasia yang mungkin tidak dapat dipenuhi.
Dengarkan dengan tenang, hormati anak, lindungi privasinya, jelaskan apa yang akan dilakukan, dan cari bantuan yang tepat sesuai kebutuhan keselamatannya.