Foto anak juga merupakan informasi pribadi

Foto dan video dapat mengungkap banyak hal tentang seorang anak.

Wajah anak, seragam sekolah, tempat tinggal, lokasi kegiatan, nama lembaga, jadwal harian, kondisi kesehatan, atau anggota keluarga dapat terlihat melalui satu unggahan.

Karena itu, membagikan foto anak bukan sekadar persoalan memilih gambar yang bagus.

Orang dewasa perlu mempertimbangkan privasi, keselamatan, martabat, dan dampaknya bagi anak.

Jejak digital dapat bertahan lama

Konten yang diunggah ke internet dapat disimpan, disalin, diambil tangkapan layar, diteruskan, atau digunakan kembali oleh orang lain.

Walaupun unggahan kemudian dihapus, salinannya mungkin tetap berada di tempat lain.

Anak juga akan tumbuh.

Foto atau cerita yang dianggap lucu ketika anak masih kecil mungkin terasa memalukan atau terlalu pribadi ketika anak sudah lebih besar.

Karena itu, pikirkan tidak hanya bagaimana unggahan terlihat hari ini, tetapi juga bagaimana anak mungkin memandangnya pada masa depan.

Anak memiliki hak atas privasi

Anak bukan milik orang dewasa.

Anak adalah individu yang memiliki martabat dan hak, termasuk hak atas privasi.

Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mengasuh dan melindungi anak.

Namun, tanggung jawab tersebut tidak berarti semua bagian kehidupan anak dapat dipublikasikan kepada orang lain.

Semakin pribadi suatu informasi, semakin besar kehati-hatian yang dibutuhkan.

Dengarkan pandangan anak

Jika anak sudah mampu memahami, tanyakan bagaimana perasaannya tentang foto atau cerita yang akan dibagikan.

Gunakan bahasa yang sesuai dengan usianya.

Misalnya:

“Boleh tidak foto ini saya kirim ke keluarga?”

atau:

“Apakah kamu nyaman kalau foto ini saya unggah?”

Pandangan anak perlu dihormati sesuai usia dan tingkat kematangannya.

Jika anak mengatakan tidak nyaman, jangan menganggap keberatannya sebagai hal sepele.

Persetujuan anak bukan satu-satunya pertimbangan

Meminta persetujuan anak merupakan langkah penting.

Namun, persetujuan anak tidak otomatis membuat semua unggahan menjadi aman.

Anak mungkin belum memahami sepenuhnya bagaimana internet bekerja atau bagaimana konten dapat digunakan kembali.

Orang dewasa tetap bertanggung jawab menilai risiko.

Jika konten terlalu pribadi, memalukan, atau dapat membahayakan anak, lebih baik tidak diunggah meskipun anak mengatakan tidak keberatan.

Hindari membagikan lokasi secara rinci

Foto dapat menunjukkan tempat anak berada.

Informasi lokasi juga dapat muncul melalui keterangan unggahan, penandaan lokasi, latar belakang foto, atau metadata tertentu.

Hindari membagikan informasi yang membuat orang lain mudah mengetahui:

  • alamat rumah;

  • lokasi sekolah;

  • tempat penitipan anak;

  • rute perjalanan rutin;

  • tempat anak mengikuti kegiatan;

  • jadwal keberangkatan dan kepulangan; atau

  • lokasi anak secara langsung.

Informasi tersebut tidak perlu diketahui oleh publik.

Hati-hati dengan seragam dan identitas sekolah

Seragam, kartu identitas, papan nama sekolah, lencana, atau latar belakang foto dapat membantu orang lain mengetahui tempat anak belajar.

Sebelum mengunggah foto, periksa seluruh bagian gambar.

Jika ada informasi yang tidak perlu terlihat, pertimbangkan untuk memilih foto lain atau tidak mengunggahnya.

Jangan membagikan dokumen anak

Jangan mengunggah dokumen yang mengandung data pribadi anak.

Misalnya:

  • akta kelahiran;

  • kartu identitas;

  • kartu keluarga;

  • kartu peserta;

  • dokumen sekolah;

  • rekam kesehatan;

  • tiket perjalanan; atau

  • dokumen lain yang memuat nomor atau identitas pribadi.

Walaupun sebagian informasi ditutupi, dokumen mungkin masih mengandung data lain yang dapat dikenali.

Jangan mempermalukan anak untuk hiburan

Foto atau video anak yang sedang menangis, dihukum, takut, marah, mengalami kesulitan, atau berada dalam keadaan memalukan sebaiknya tidak dijadikan hiburan.

Anak mungkin belum mampu menolak atau memahami bahwa momen tersebut akan dilihat banyak orang.

Kesulitan anak bukan bahan konten.

Martabat anak perlu dijaga, bahkan ketika orang dewasa menganggap suatu kejadian lucu.

Hindari membuka masalah pribadi anak

Tidak semua cerita keluarga perlu dibagikan.

Berhati-hatilah ketika membicarakan:

  • masalah kesehatan;

  • kondisi perkembangan;

  • kesulitan belajar;

  • konflik keluarga;

  • perilaku anak;

  • pengalaman kekerasan;

  • kondisi ekonomi keluarga; atau

  • masalah pribadi lainnya.

Membagikan informasi seperti ini dapat memengaruhi cara orang lain memandang anak.

Anak berhak tumbuh tanpa seluruh riwayat pribadinya tersedia bagi publik.

Foto tanpa nama belum tentu anonim

Menghapus nama anak belum tentu membuat identitasnya aman.

Orang lain mungkin tetap dapat mengenali anak melalui:

  • wajah;

  • sekolah;

  • lokasi;

  • anggota keluarga;

  • kegiatan;

  • seragam;

  • nama panggilan; atau

  • gabungan beberapa informasi kecil.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah nama anak disebutkan?”

Tanyakan juga:

“Apakah orang lain masih dapat mengetahui siapa anak ini?”

Periksa siapa yang dapat melihat unggahan

Tidak semua unggahan harus tersedia untuk publik.

Periksa pengaturan privasi akun.

Pertimbangkan siapa yang benar-benar perlu melihat foto atau cerita tersebut.

Untuk beberapa hal, mengirim langsung kepada keluarga melalui saluran yang lebih terbatas mungkin lebih tepat daripada mengunggahnya ke akun publik.

Namun, tetap ingat bahwa konten yang dikirim secara pribadi pun dapat disalin atau diteruskan.

Jangan menganggap akun privat sepenuhnya aman

Akun privat membantu membatasi akses.

Namun, akun privat tidak membuat konten sepenuhnya terkendali.

Orang yang sudah memiliki akses masih dapat mengambil tangkapan layar atau meneruskan konten.

Karena itu, prinsip utamanya tetap sama:

Jangan unggah sesuatu yang dapat merugikan anak jika konten tersebut tersebar lebih luas dari yang direncanakan.

Hindari membagikan foto anak lain tanpa pertimbangan

Foto kegiatan anak sering memuat teman atau anak lain.

Jangan berasumsi bahwa karena kita boleh membagikan foto anak sendiri, kita juga boleh membagikan foto anak lain.

Keluarga lain dapat memiliki pertimbangan privasi yang berbeda.

Jika memungkinkan, hindari mempublikasikan wajah atau identitas anak lain tanpa dasar dan persetujuan yang sesuai.

Konten yang menghasilkan keuntungan membutuhkan kehati-hatian lebih

Jika foto, video, atau kehidupan anak digunakan dalam konten yang menghasilkan uang, promosi, iklan, atau keuntungan lain, kepentingan orang dewasa dapat berbenturan dengan kepentingan anak.

Dalam keadaan seperti ini, orang dewasa perlu lebih berhati-hati.

Pertimbangkan:

  • apakah anak memahami apa yang dilakukan;

  • apakah anak benar-benar bebas menolak;

  • apakah privasinya terlindungi;

  • apakah kegiatan mengganggu pendidikan, bermain, istirahat, atau perkembangan;

  • apakah anak mendapat perlindungan yang memadai; dan

  • siapa yang sebenarnya memperoleh manfaat dari konten tersebut.

Kepentingan ekonomi tidak boleh mengalahkan hak anak.

Jangan menjadikan perilaku anak sebagai hukuman publik

Mengunggah kesalahan anak untuk mempermalukannya bukan cara yang baik untuk mendisiplinkan.

Misalnya, merekam anak yang sedang dihukum lalu mengunggahnya agar orang lain melihat dapat menambah rasa malu dan meninggalkan jejak digital.

Masalah perilaku sebaiknya diselesaikan dengan cara yang menghormati martabat anak.

Disiplin bertujuan membantu anak belajar, bukan mempermalukannya di depan publik.

Perhatikan foto anak dalam keadaan rentan

Hindari mempublikasikan foto anak ketika:

  • sedang menerima perawatan kesehatan;

  • mengalami kecelakaan;

  • sedang sangat sedih;

  • mengalami kekerasan;

  • menghadapi masalah perlindungan;

  • sedang berganti pakaian;

  • berada dalam kondisi tubuh yang sangat terbuka; atau

  • berada dalam keadaan lain yang sangat pribadi.

Dalam situasi seperti ini, kebutuhan menjaga privasi harus lebih diutamakan daripada keinginan untuk mendokumentasikan atau membagikan.

Orang tua juga dapat menghapus unggahan lama

Kebiasaan digital dapat berubah.

Jika setelah dipikirkan kembali ada unggahan lama yang terlalu pribadi, memalukan, atau membuka terlalu banyak informasi, pertimbangkan untuk menghapusnya.

Tidak perlu mempertahankan suatu unggahan hanya karena sudah lama berada di internet.

Jika anak yang lebih besar meminta foto tertentu dihapus, dengarkan permintaannya dengan serius.

Buat aturan keluarga tentang foto dan media sosial

Keluarga dapat membuat kesepakatan sederhana.

Misalnya:

  • foto apa yang boleh dibagikan;

  • siapa yang boleh membagikan;

  • siapa yang dapat melihatnya;

  • kapan perlu meminta pendapat anak;

  • informasi apa yang tidak boleh dicantumkan; dan

  • apa yang dilakukan jika anak meminta unggahan dihapus.

Kesepakatan membantu semua anggota keluarga memahami batas yang sama.

Tujuh pertanyaan sebelum mengunggah foto anak

Sebelum menekan tombol unggah, tanyakan:

  1. Apakah anak nyaman dengan foto atau cerita ini?

  2. Apakah unggahan ini menghormati martabat anak?

  3. Apakah foto membuka lokasi, sekolah, atau informasi pribadi?

  4. Apakah anak mungkin merasa malu ketika melihatnya beberapa tahun lagi?

  5. Siapa yang benar-benar perlu melihat konten ini?

  6. Apakah unggahan tetap aman jika disalin atau diteruskan orang lain?

  7. Apakah manfaat membagikannya lebih besar daripada risiko bagi anak?

Jika ragu, tidak mengunggah adalah pilihan yang sah.

Yang perlu diingat

Tidak semua momen anak harus menjadi konten.

Menyimpan kenangan tidak selalu berarti mempublikasikannya.

Orang dewasa mempunyai tanggung jawab membantu anak membangun jejak digital yang tidak merugikan dirinya.

Dengarkan pandangan anak.

Jaga lokasi dan informasi pribadinya.

Hindari konten yang mempermalukan atau terlalu pribadi.

Dan sebelum membagikan sesuatu, ingat bahwa foto tersebut menceritakan kehidupan anak, bukan hanya kehidupan orang dewasa yang mengunggahnya.