Setiap anak berhak terlindungi dari kekerasan
Setiap anak berhak merasa aman.
Anak tidak boleh mengalami kekerasan, perlakuan yang merendahkan, penelantaran, eksploitasi, atau tindakan lain yang membahayakan dirinya.
Perlindungan tersebut berlaku di mana pun anak berada.
Anak perlu aman di rumah, satuan pendidikan, tempat bermain, lingkungan masyarakat, layanan publik, kegiatan keagamaan, ruang digital, dan tempat lainnya.
Orang dewasa mempunyai tanggung jawab untuk mencegah kekerasan dan bertindak ketika keselamatan anak terancam.
Kekerasan terhadap anak tidak selalu terlihat
Sebagian orang membayangkan kekerasan hanya sebagai tindakan yang menyebabkan luka fisik.
Padahal, kekerasan terhadap anak dapat berbentuk banyak hal.
Dampaknya juga tidak selalu langsung terlihat.
Anak dapat mengalami ketakutan, rasa malu, kehilangan rasa aman, perubahan perilaku, kesulitan belajar, atau masalah lain setelah mengalami perlakuan yang membahayakan.
Karena itu, jangan menunggu sampai ada luka yang terlihat untuk mulai memperhatikan keselamatan anak.
Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah tindakan yang menyakiti atau membahayakan tubuh anak.
Memukul, menendang, mencubit dengan keras, membakar, mendorong, atau melakukan tindakan fisik lain yang menyebabkan atau berisiko menyebabkan cedera bukan cara yang tepat untuk mendisiplinkan anak.
Anak membutuhkan batasan dan aturan.
Namun, aturan dapat diajarkan tanpa menggunakan kekerasan.
Disiplin bertujuan membantu anak memahami perilaku, bukan membuat anak takut kepada orang dewasa.
Kekerasan emosional
Anak juga dapat terluka melalui kata-kata dan perlakuan.
Menghina, mempermalukan, mengancam, merendahkan, menakut-nakuti, menolak secara terus-menerus, atau membuat anak merasa tidak berharga dapat membahayakan kesejahteraan emosionalnya.
Ucapan yang dianggap bercanda oleh orang dewasa juga dapat menyakitkan bagi anak.
Karena itu, perhatikan bukan hanya maksud orang dewasa, tetapi juga dampak perlakuan tersebut terhadap anak.
Kekerasan seksual terhadap anak
Anak berhak terlindungi dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi seksual.
Tanggung jawab menjaga batas yang aman selalu berada pada orang dewasa.
Anak tidak boleh dipersalahkan atas kekerasan seksual yang dilakukan terhadap dirinya.
Jika seorang anak menceritakan pengalaman yang mengarah pada kekerasan seksual, dengarkan dengan serius dan utamakan keselamatannya.
Jangan memaksa anak menceritakan kejadian berulang-ulang kepada banyak orang.
Penanganan lebih lanjut perlu melibatkan pihak yang mempunyai kewenangan dan kompetensi sesuai keadaan anak.
Penelantaran juga dapat membahayakan anak
Penelantaran terjadi ketika kebutuhan penting anak tidak dipenuhi secara memadai sehingga keselamatan, kesehatan, atau perkembangannya terancam.
Kebutuhan tersebut dapat mencakup makanan, kesehatan, pengawasan, perlindungan, pengasuhan, pendidikan, dan kebutuhan perkembangan lainnya.
Namun, keadaan keluarga perlu dilihat dengan hati-hati.
Keterbatasan ekonomi tidak boleh secara otomatis dianggap sebagai penelantaran.
Keluarga yang menghadapi kesulitan mungkin justru membutuhkan dukungan agar dapat memenuhi kebutuhan anak.
Anak harus terlindungi dari eksploitasi
Anak tidak boleh dimanfaatkan untuk keuntungan orang lain dengan cara yang merugikan hak, keselamatan, pendidikan, kesehatan, atau perkembangannya.
Eksploitasi dapat terjadi dalam berbagai situasi.
Karena itu, orang dewasa perlu memperhatikan apakah suatu kegiatan benar-benar sesuai dengan usia dan kepentingan anak atau justru menempatkan anak dalam keadaan yang membahayakan.
Kepentingan ekonomi atau kepentingan orang dewasa tidak boleh ditempatkan di atas keselamatan dan hak anak.
Kekerasan dapat terjadi di ruang digital
Perlindungan anak juga berlaku ketika anak menggunakan internet dan layanan digital.
Anak dapat menghadapi perundungan daring, ancaman, manipulasi, pelecehan, penyebaran informasi pribadi, atau bentuk eksploitasi lainnya.
Orang dewasa perlu membantu anak memahami keamanan digital tanpa menakut-nakuti atau mengawasinya secara berlebihan.
Bangun komunikasi agar anak merasa dapat meminta bantuan ketika mengalami sesuatu yang membuatnya takut, malu, atau tidak nyaman di ruang digital.
Perhatikan perubahan pada anak
Tidak ada satu tanda yang dapat memastikan bahwa seorang anak mengalami kekerasan.
Perubahan perilaku juga dapat mempunyai banyak penyebab.
Namun, orang dewasa perlu memperhatikan perubahan yang berlangsung terus-menerus atau menimbulkan kekhawatiran.
Misalnya:
anak tiba-tiba sangat takut terhadap orang atau tempat tertentu;
terjadi perubahan tidur atau pola makan;
anak menarik diri dari kegiatan yang sebelumnya disukai;
anak menjadi sangat cemas atau mudah terkejut;
terdapat luka yang tidak dapat dijelaskan dengan wajar;
anak menunjukkan perubahan perilaku yang nyata;
prestasi atau keterlibatan dalam belajar berubah secara mendadak; atau
anak mengatakan bahwa seseorang telah menyakiti atau membuatnya takut.
Tanda-tanda tersebut bukan bukti dengan sendirinya.
Jangan langsung menyimpulkan penyebabnya.
Dengarkan anak dan cari bantuan yang tepat jika ada alasan untuk khawatir.
Jika anak bercerita, dengarkan
Ketika anak mengatakan bahwa seseorang telah menyakitinya, tanggapan pertama orang dewasa sangat penting.
Usahakan tetap tenang.
Dengarkan anak.
Berikan perhatian penuh.
Gunakan kalimat yang sederhana dan tidak menghakimi.
Hindari menyalahkan anak atau mempertanyakan mengapa anak tidak melawan, tidak pergi, atau tidak bercerita lebih awal.
Anak dapat memiliki banyak alasan untuk merasa takut atau sulit berbicara.
Jangan menginterogasi anak
Tujuan awal adalah memahami apakah anak aman, bukan melakukan pemeriksaan sendiri.
Hindari mengajukan banyak pertanyaan yang mengarahkan atau memaksa anak memberikan rincian.
Jika diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, hal tersebut sebaiknya dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan.
Mengulang pertanyaan berkali-kali juga dapat membuat anak merasa tertekan.
Dengarkan apa yang ingin disampaikan anak dan catat informasi penting secara hati-hati jika memang diperlukan.
Utamakan keselamatan
Jika ada kekhawatiran tentang kekerasan, pertanyaan pertama adalah:
Apakah anak aman sekarang?
Jika anak berada dalam bahaya langsung, keselamatannya harus menjadi prioritas.
Jauhkan anak dari keadaan yang membahayakan apabila dapat dilakukan dengan aman dan hubungi layanan atau pihak yang berwenang untuk memberikan pertolongan.
Jangan mempertaruhkan keselamatan anak dengan menghadapkan anak langsung kepada orang yang diduga melakukan kekerasan.
Jangan menjanjikan rahasia mutlak
Anak perlu merasa bahwa ceritanya dihormati.
Namun, jika keselamatan anak terancam, orang dewasa mungkin perlu meminta bantuan pihak lain.
Karena itu, hindari mengatakan, “Saya berjanji tidak akan memberi tahu siapa pun.”
Lebih baik jelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa informasi hanya akan disampaikan kepada orang yang perlu membantu menjaga keselamatannya.
Jaga privasi anak
Informasi mengenai anak yang mengalami atau diduga mengalami kekerasan merupakan informasi sensitif.
Jangan menyebarkan nama, foto, alamat, rekaman, cerita pribadi, atau informasi lain tentang anak melalui media sosial atau grup percakapan.
Niat untuk mencari dukungan tidak membenarkan penyebaran identitas anak secara luas.
Bagikan informasi hanya kepada pihak yang memang perlu mengetahui untuk melindungi dan membantu anak.
Mencegah lebih baik daripada menunggu kejadian
Pencegahan kekerasan perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Orang dewasa dapat:
menggunakan disiplin tanpa kekerasan;
membangun komunikasi yang terbuka dengan anak;
menghormati tubuh dan batas pribadi anak;
mengajarkan anak bahwa ia boleh mengatakan tidak terhadap sentuhan atau perlakuan yang membuatnya tidak nyaman;
memastikan lingkungan dan kegiatan anak memiliki aturan perlindungan yang jelas;
memperhatikan keamanan anak di ruang digital;
mengetahui siapa yang dapat dihubungi ketika ada kekhawatiran; dan
menanggapi laporan atau kekhawatiran tentang keselamatan anak dengan serius.
Perlindungan bukan tanggung jawab anak
Anak dapat diajarkan mengenali keadaan yang tidak aman dan mencari pertolongan.
Namun, tanggung jawab utama untuk mencegah kekerasan tetap berada pada orang dewasa, lembaga, dan pihak yang mempunyai kewenangan.
Jangan memberikan pesan yang seolah-olah keselamatan sepenuhnya tergantung pada kemampuan anak untuk menghindari pelaku.
Orang dewasa harus menciptakan lingkungan yang aman.
Lima pertanyaan ketika keselamatan anak dikhawatirkan
Tanyakan:
Apakah anak berada dalam bahaya sekarang?
Apakah anak sudah didengarkan tanpa disalahkan atau ditekan?
Apakah identitas dan privasi anak sudah dijaga?
Siapa pihak yang tepat dan berwenang untuk membantu anak?
Apa yang perlu dilakukan agar anak tetap aman setelah meminta bantuan?
Keselamatan anak perlu menjadi pertimbangan utama dalam setiap langkah.
Yang perlu diingat
Kekerasan terhadap anak tidak dapat dibenarkan sebagai cara mendidik, mendisiplinkan, bercanda, atau menunjukkan kasih sayang.
Anak berhak hidup dalam lingkungan yang aman dan menghormati martabatnya.
Ketika ada kekhawatiran, jangan menebak atau menyelidiki sendiri secara berlebihan.
Dengarkan anak, jaga privasinya, utamakan keselamatannya, dan cari bantuan yang tepat sesuai keadaan.