Anak memiliki hak atas privasi
Anak memiliki hak atas privasi.
Hak ini tetap berlaku ketika anak mengalami kekerasan, menghadapi masalah perlindungan, menerima layanan, atau sedang menjadi perhatian masyarakat.
Keinginan untuk membantu anak tidak berarti semua informasi tentang anak boleh dibagikan.
Semakin sensitif keadaan anak, semakin hati-hati informasi tentang dirinya harus dikelola.
Mengapa privasi anak penting?
Informasi yang tersebar dapat terus mengikuti anak dalam waktu yang lama.
Nama, foto, alamat, sekolah, rekaman, riwayat kesehatan, atau cerita tentang kekerasan dapat membuat anak dikenali oleh orang lain.
Penyebaran informasi juga dapat membuat anak merasa malu, takut, tertekan, atau kembali mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan.
Dalam beberapa keadaan, penyebaran identitas bahkan dapat meningkatkan risiko terhadap keselamatan anak.
Karena itu, perlindungan anak juga berarti melindungi informasi tentang dirinya.
Informasi apa yang perlu dijaga?
Informasi sensitif tidak hanya berupa nama lengkap.
Identitas anak dapat diketahui melalui gabungan beberapa informasi.
Informasi yang perlu dijaga dapat meliputi:
nama anak;
foto dan video;
rekaman suara;
alamat rumah;
nama sekolah atau satuan pendidikan;
lokasi kegiatan;
nomor telepon;
akun media sosial;
informasi keluarga;
kondisi kesehatan;
disabilitas;
dokumen identitas;
cerita mengenai kekerasan atau eksploitasi;
catatan pelayanan;
informasi mengenai proses hukum; dan
informasi lain yang memungkinkan orang mengenali anak.
Menghapus nama saja belum tentu membuat informasi menjadi anonim.
Jangan menyebarkan cerita anak untuk mencari simpati
Ketika terjadi peristiwa yang menyedihkan, orang dewasa mungkin ingin mencari dukungan dengan membagikan cerita anak.
Niat tersebut dapat terlihat baik.
Namun, pengalaman anak bukan bahan untuk menarik perhatian publik.
Jangan membagikan cerita rinci tentang kekerasan, kondisi keluarga, kesehatan, atau keadaan pribadi anak hanya untuk mendapatkan simpati.
Jika bantuan perlu dicari, sampaikan informasi secukupnya tanpa membuka identitas atau rincian yang tidak diperlukan.
Foto anak juga merupakan informasi pribadi
Foto dapat mengungkap lebih banyak informasi daripada yang kita sadari.
Seragam sekolah, papan nama, rumah, lokasi kegiatan, wajah keluarga, atau tanda tertentu dapat membantu orang mengenali anak.
Karena itu, pikirkan dengan hati-hati sebelum mengambil atau membagikan foto anak.
Dalam kasus perlindungan anak, kebutuhan dokumentasi tidak otomatis berarti foto boleh dipublikasikan.
Dokumentasi untuk keperluan resmi berbeda dengan publikasi kepada masyarakat.
Jangan menyebarkan foto luka atau kondisi anak
Foto luka, kondisi tubuh, atau keadaan anak setelah mengalami kekerasan merupakan informasi yang sangat sensitif.
Jangan membagikannya melalui media sosial atau grup percakapan.
Jangan menjadikannya bukti kepada masyarakat.
Jika dokumentasi memang diperlukan untuk penanganan resmi, pengelolaannya harus dilakukan melalui jalur yang tepat dan hanya dapat diakses oleh pihak yang membutuhkan.
Martabat anak harus tetap dijaga.
Hati-hati dengan grup percakapan
Grup keluarga, sekolah, organisasi, atau lingkungan sering dianggap sebagai ruang tertutup.
Namun, informasi yang dikirim ke grup dapat diteruskan, disimpan, diambil tangkapan layar, atau dibagikan kembali.
Karena itu, jangan mengirim informasi sensitif tentang anak hanya karena grup dianggap pribadi.
Sebelum mengirim sesuatu, tanyakan:
“Apakah semua orang di grup ini benar-benar perlu mengetahui informasi ini?”
Jika tidak, gunakan jalur komunikasi yang lebih terbatas.
Media sosial bukan tempat menangani kasus anak
Masalah perlindungan anak tidak seharusnya diselesaikan melalui perdebatan di media sosial.
Mengunggah identitas anak, kronologi lengkap, foto, atau tuduhan dapat menimbulkan risiko baru.
Informasi yang sudah tersebar juga sulit ditarik kembali.
Jika anak membutuhkan perlindungan, gunakan jalur pertolongan dan pelaporan yang sesuai.
Utamakan keselamatan anak, bukan perhatian publik.
Bagikan informasi hanya jika diperlukan
Dalam proses membantu anak, beberapa pihak mungkin memang perlu mengetahui informasi tertentu.
Namun, tidak semua orang perlu mengetahui seluruh cerita.
Gunakan prinsip sederhana:
Hanya orang yang perlu mengetahui yang memperoleh informasi yang diperlukan.
Guru mungkin membutuhkan informasi tertentu untuk menjaga anak tetap aman di sekolah.
Tenaga kesehatan mungkin membutuhkan informasi yang berkaitan dengan perawatan.
Pihak berwenang mungkin membutuhkan informasi untuk menjalankan tugasnya.
Masing-masing tidak selalu membutuhkan seluruh informasi yang sama.
Berikan informasi secukupnya
Ketika harus berbagi informasi, sampaikan hanya bagian yang diperlukan untuk tujuan yang jelas.
Hindari menambahkan detail yang tidak relevan.
Misalnya, jika seseorang hanya perlu mengetahui bahwa seorang anak memerlukan penjemputan khusus, tidak selalu perlu menceritakan seluruh latar belakang masalah perlindungan yang sedang dihadapi anak.
Semakin sedikit informasi sensitif yang tersebar tanpa kebutuhan, semakin kecil risiko terhadap privasi anak.
Simpan catatan dengan aman
Catatan mengenai masalah perlindungan anak tidak boleh diletakkan di tempat yang dapat dibaca sembarang orang.
Baik catatan dalam bentuk kertas maupun digital perlu dilindungi.
Pertimbangkan:
siapa yang boleh mengakses catatan;
di mana catatan disimpan;
bagaimana informasi dikirim;
apakah salinan benar-benar diperlukan;
berapa lama informasi perlu disimpan; dan
bagaimana catatan yang tidak lagi diperlukan dikelola dengan aman.
Akses terhadap informasi sensitif harus dibatasi.
Pisahkan fakta dari dugaan
Catatan mengenai anak sebaiknya membedakan antara fakta, apa yang dikatakan anak, apa yang dilihat orang dewasa, dan pendapat orang yang membuat catatan.
Jangan mengubah dugaan menjadi seolah-olah fakta.
Misalnya, lebih baik menulis:
“Anak mengatakan bahwa ia takut pulang.”
daripada langsung menulis kesimpulan yang belum dapat dipastikan penyebabnya.
Pencatatan yang hati-hati melindungi anak sekaligus membantu proses penanganan.
Jangan membuat salinan tanpa kebutuhan
Semakin banyak salinan informasi sensitif, semakin besar kemungkinan informasi tersebar.
Hindari:
meneruskan pesan berkali-kali;
menyimpan foto di banyak perangkat;
mencetak dokumen tanpa kebutuhan;
memasukkan informasi anak ke penyimpanan pribadi yang tidak aman; atau
membuat grup baru hanya untuk membicarakan kasus.
Gunakan saluran yang memang disediakan untuk penanganan informasi sensitif.
Anak juga perlu mendapat penjelasan
Sejauh sesuai dengan usia dan kematangannya, anak perlu mengetahui bagaimana informasi tentang dirinya akan digunakan.
Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Misalnya:
“Saya perlu berbicara dengan orang yang bisa membantu menjaga kamu tetap aman.”
Anak juga perlu mengetahui jika informasi tertentu harus disampaikan kepada pihak lain.
Hal ini membantu membangun kepercayaan dan mencegah anak merasa bahwa ceritanya disebarkan tanpa sepengetahuannya.
Persetujuan bukan satu-satunya pertimbangan
Mendengarkan pandangan anak mengenai penggunaan foto, cerita, atau informasi pribadinya sangat penting.
Namun, meminta persetujuan anak tidak otomatis membuat semua bentuk publikasi menjadi aman.
Anak mungkin belum memahami bahwa informasi yang diunggah ke internet dapat disimpan dan disebarkan kembali.
Orang dewasa tetap bertanggung jawab mempertimbangkan risiko, kepentingan terbaik, privasi, dan keselamatan anak.
Tanggung jawab perlindungan tidak boleh dipindahkan kepada anak hanya dengan meminta persetujuan.
Hindari identitas tidak langsung
Kadang-kadang nama anak sudah disamarkan, tetapi identitasnya tetap mudah dikenali.
Misalnya:
“Seorang anak kelas tiga di satu-satunya sekolah dasar di Desa X.”
Orang di lingkungan tersebut mungkin langsung mengetahui siapa anak yang dimaksud.
Karena itu, ketika informasi perlu dianonimkan, periksa semua petunjuk yang dapat mengarah pada identitas anak.
Anonimisasi bukan sekadar mengganti nama.
Berhati-hati ketika berbicara dengan media
Jika suatu masalah mendapat perhatian media, perlindungan identitas anak harus tetap menjadi prioritas.
Jangan memberikan foto, alamat, sekolah, rincian keluarga, atau informasi sensitif lainnya tanpa dasar dan kebutuhan yang sah.
Anak tidak boleh dijadikan pusat tontonan karena mengalami peristiwa yang sulit.
Kepentingan publik tidak otomatis berarti identitas anak harus dibuka kepada publik.
Privasi tetap penting setelah masalah selesai
Perlindungan informasi tidak berhenti ketika suatu kasus atau layanan selesai.
Catatan, foto, tangkapan layar, dan dokumen dapat tetap beredar setelah anak kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena itu, periksa kembali siapa yang masih memiliki akses dan apakah informasi masih perlu disimpan.
Anak mempunyai hak untuk tumbuh tanpa terus-menerus dilekatkan pada pengalaman sulit yang pernah dialaminya.
Enam pertanyaan sebelum membagikan informasi anak
Sebelum membagikan informasi, tanyakan:
Apakah informasi ini benar-benar perlu dibagikan?
Untuk tujuan apa informasi ini dibagikan?
Siapa yang benar-benar perlu mengetahuinya?
Apakah informasi dapat diberikan tanpa membuka identitas anak?
Apakah penyebaran informasi dapat menimbulkan risiko sekarang atau pada masa depan?
Apakah martabat, keselamatan, dan kepentingan terbaik anak tetap terjaga?
Jika tujuan tidak jelas, jangan membagikan informasi.
Yang perlu diingat
Membantu anak tidak mengharuskan kita membuka kehidupan pribadinya kepada orang lain.
Jaga nama, foto, cerita, catatan, lokasi, dan informasi sensitif anak.
Bagikan hanya kepada pihak yang memang perlu mengetahui dan hanya sebanyak yang diperlukan.
Jangan menjadikan pengalaman sulit anak sebagai konten.
Perlindungan privasi adalah bagian dari perlindungan keselamatan, martabat, dan masa depan anak.