Tidak semua yang ada di internet benar

Internet memberi anak akses terhadap banyak informasi.

Anak dapat belajar, mencari jawaban, melihat berita, menonton video, dan menemukan berbagai pendapat.

Namun, tidak semua informasi di internet benar.

Ada informasi yang salah karena kesalahan.

Ada informasi yang sengaja dibuat menyesatkan.

Ada pula informasi yang sebagian benar tetapi disajikan tanpa konteks sehingga menimbulkan kesan yang keliru.

Karena itu, anak perlu belajar untuk tidak langsung percaya hanya karena sesuatu terlihat meyakinkan.

Ajarkan anak berhenti sebelum percaya

Kebiasaan paling sederhana adalah berhenti sejenak.

Sebelum mempercayai suatu informasi, tanyakan:

“Siapa yang membuat informasi ini?”

“Dari mana asalnya?”

“Apakah ada sumber lain yang mengatakan hal yang sama?”

“Apakah ada bukti yang dapat diperiksa?”

Anak tidak perlu menjadi ahli.

Yang penting adalah membangun kebiasaan untuk tidak langsung menerima semua yang muncul di layar.

Periksa siapa yang membuat informasi

Sumber informasi penting.

Ajarkan anak melihat:

  • siapa penulisnya;

  • lembaga apa yang menerbitkannya;

  • apakah sumber tersebut dapat dikenali;

  • apakah ada informasi tentang penulis atau lembaga;

  • apakah sumber mempunyai keahlian yang berkaitan dengan topik; dan

  • apakah informasi tersebut berasal dari akun resmi atau akun yang hanya menyerupai akun resmi.

Nama yang terdengar meyakinkan belum tentu menunjukkan sumber yang dapat dipercaya.

Bedakan fakta dan pendapat

Fakta adalah sesuatu yang dapat diperiksa.

Pendapat adalah pandangan atau penilaian seseorang.

Keduanya dapat ditemukan di internet.

Anak perlu belajar mengenali perbedaannya.

Misalnya:

“Sekolah dimulai pukul 07.00” dapat diperiksa.

Sedangkan:

“Sekolah itu paling bagus” merupakan penilaian.

Masalah muncul ketika pendapat disajikan seolah-olah merupakan fakta.

Ajarkan anak bertanya:

“Ini fakta yang bisa diperiksa atau pendapat seseorang?”

Jangan hanya membaca judul

Judul dibuat untuk menarik perhatian.

Kadang-kadang judul membuat informasi terlihat lebih mengejutkan daripada isi sebenarnya.

Ajarkan anak membuka dan membaca isi sebelum membagikannya.

Tanyakan:

“Apakah isi benar-benar mengatakan hal yang sama dengan judul?”

Jika judul dan isi berbeda jauh, berhati-hatilah.

Waspadai informasi yang membuat kita sangat takut atau marah

Konten yang menyesatkan sering menggunakan emosi.

Judul dapat membuat pembaca:

  • sangat takut;

  • sangat marah;

  • merasa terancam;

  • sangat penasaran; atau

  • merasa harus segera membagikan informasi.

Emosi tidak berarti informasi tersebut pasti salah.

Namun, jika suatu unggahan membuat kita langsung ingin bereaksi, berhenti sejenak.

Periksa informasi sebelum bertindak.

Jangan percaya hanya karena sudah banyak dibagikan

Jumlah suka, komentar, atau pembagian tidak membuktikan bahwa informasi benar.

Informasi yang salah juga dapat menjadi sangat populer.

Banyak orang dapat membagikan sesuatu tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Ajarkan anak:

“Ramai belum tentu benar.”

Popularitas bukan bukti.

Periksa tanggal

Informasi lama dapat dibagikan kembali seolah-olah baru terjadi.

Foto atau berita dari beberapa tahun lalu dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa yang berbeda.

Karena itu, periksa tanggal penerbitan.

Tanyakan:

“Apakah ini informasi baru atau informasi lama yang muncul kembali?”

Konteks waktu dapat mengubah arti sebuah informasi.

Periksa tempat dan konteks

Foto dari satu negara dapat digunakan seolah-olah terjadi di tempat lain.

Video dari satu kejadian dapat dipotong dan diberikan keterangan yang berbeda.

Sebelum percaya, tanyakan:

“Di mana sebenarnya ini terjadi?”

“Kapan?”

“Apa yang terjadi sebelum dan sesudah bagian yang kita lihat?”

Konteks membantu memahami informasi secara lebih utuh.

Bandingkan dengan sumber lain

Jika informasi penting, jangan bergantung pada satu sumber.

Cari apakah sumber terpercaya lain juga melaporkannya.

Jika hanya satu akun yang menyampaikan klaim besar sementara tidak ada sumber lain yang dapat menguatkannya, kita perlu lebih berhati-hati.

Untuk informasi kesehatan, pendidikan, keselamatan, atau kebijakan, utamakan sumber resmi dan sumber yang memiliki keahlian di bidangnya.

Foto juga dapat menyesatkan

Foto terlihat seperti bukti yang kuat.

Namun, foto dapat:

  • dipotong;

  • diedit;

  • digunakan di luar konteks;

  • berasal dari peristiwa lain;

  • diberi keterangan yang salah; atau

  • dibuat atau diubah dengan teknologi digital.

Karena itu, jangan langsung percaya hanya karena sebuah unggahan disertai foto.

Tanyakan:

“Apakah foto ini benar-benar berasal dari kejadian yang sedang dibicarakan?”

Video juga dapat dimanipulasi

Video dapat dipotong sehingga bagian penting tidak terlihat.

Suara dapat ditambahkan atau diubah.

Wajah dan suara seseorang juga dapat dimanipulasi menggunakan teknologi.

Karena itu, video bukan selalu bukti yang lengkap.

Anak perlu memahami bahwa sesuatu yang terlihat atau terdengar nyata tetap perlu diperiksa.

Konten buatan AI juga perlu diperiksa

Teknologi kecerdasan buatan dapat membuat teks, gambar, suara, dan video yang terlihat sangat meyakinkan.

Konten buatan AI tidak selalu buruk.

Teknologi tersebut dapat membantu belajar dan berkarya.

Namun, konten yang dihasilkan AI dapat mengandung kesalahan atau digunakan untuk membuat sesuatu yang tidak pernah terjadi terlihat nyata.

Ajarkan anak untuk tidak menilai kebenaran hanya dari penampilan.

Tanyakan:

“Dari mana informasi ini berasal?”

“Apakah ada bukti lain?”

“Apakah sumber terpercaya mengonfirmasi hal yang sama?”

Jangan menganggap AI selalu mengetahui jawaban yang benar

Alat AI dapat memberikan jawaban dengan bahasa yang terdengar yakin.

Namun, jawaban tersebut tetap dapat salah, kurang lengkap, atau menggunakan informasi yang tidak tepat.

Karena itu, gunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Untuk tugas sekolah atau informasi penting, periksa kembali dengan buku, guru, sumber resmi, atau referensi yang dapat dipercaya.

Waspadai akun yang meniru pihak lain

Beberapa akun dibuat menyerupai:

  • sekolah;

  • tokoh publik;

  • lembaga pemerintah;

  • organisasi;

  • perusahaan; atau

  • orang tertentu.

Nama dan foto profil dapat dibuat mirip.

Ajarkan anak memeriksa akun dengan hati-hati.

Jangan hanya melihat foto profil.

Periksa nama akun, riwayat unggahan, tautan resmi, dan sumber lain yang dapat memastikan keasliannya.

Waspadai informasi yang meminta tindakan segera

Informasi menyesatkan sering mengatakan:

“Sebarkan sekarang!”

“Jangan sampai dihapus!”

“Semua orang harus tahu!”

“Kalau tidak dibagikan, kamu akan rugi.”

Tekanan untuk bertindak cepat dapat membuat orang melewatkan proses pemeriksaan.

Ajarkan anak:

Jika sesuatu meminta kita segera membagikan, justru itu saat yang tepat untuk berhenti dan memeriksa.

Jangan ikut menyebarkan jika belum yakin

Anak tidak harus membuktikan bahwa suatu informasi salah sebelum memilih tidak membagikannya.

Jika belum yakin, cukup berhenti.

Tidak membagikan merupakan pilihan yang bertanggung jawab.

Lebih baik terlambat membagikan informasi yang benar daripada ikut menyebarkan informasi yang salah.

Jika sudah terlanjur membagikan informasi yang salah

Kesalahan dapat terjadi.

Jika anak mengetahui bahwa informasi yang dibagikannya ternyata salah, ajarkan untuk memperbaikinya.

Ia dapat:

  • menghapus unggahan jika sesuai;

  • memberi tahu orang yang menerima informasi;

  • menyampaikan koreksi;

  • membagikan sumber yang lebih tepat; dan

  • belajar dari kesalahan tersebut.

Jangan mempermalukan anak.

Memperbaiki informasi adalah bagian dari tanggung jawab digital.

Bedakan kesalahan dengan penipuan

Tidak semua informasi yang salah dibuat dengan sengaja.

Seseorang dapat salah memahami atau salah menulis.

Namun, ada pula informasi yang sengaja dibuat untuk menipu, mendapatkan uang, memengaruhi orang, atau mencuri data.

Karena itu, selain memeriksa kebenaran, tanyakan:

“Apa yang orang ini ingin saya lakukan?”

Jika suatu informasi meminta uang, kata sandi, kode verifikasi, atau data pribadi, berhati-hatilah.

Jangan memasukkan data pribadi untuk memeriksa informasi

Situs atau akun tertentu dapat menjanjikan informasi, hadiah, atau hasil tertentu jika anak memasukkan data.

Jangan memberikan:

  • kata sandi;

  • kode verifikasi;

  • nomor identitas;

  • alamat rumah;

  • informasi pembayaran; atau

  • informasi pribadi sensitif lainnya.

Memeriksa informasi tidak seharusnya memerlukan penyerahan data pribadi yang tidak relevan.

Orang dewasa juga dapat salah

Anak perlu mengetahui bahwa orang dewasa juga dapat tertipu oleh informasi palsu.

Karena itu, membangun budaya saling memeriksa lebih baik daripada mengatakan:

“Pokoknya percaya orang dewasa.”

Orang tua dan anak dapat memeriksa informasi bersama.

Misalnya:

“Ayo kita lihat sumbernya.”

“Ada berita lain tentang ini?”

“Ini dari akun resmi atau bukan?”

Cara seperti ini mengajarkan proses berpikir, bukan hanya memberikan jawaban.

Jangan mempermalukan anak karena percaya informasi palsu

Jika anak tertipu oleh informasi palsu, jangan mengejeknya.

Tujuan literasi digital bukan membuat anak takut melakukan kesalahan.

Gunakan kejadian tersebut sebagai kesempatan belajar.

Tanyakan:

“Bagian mana yang membuat informasi ini terlihat meyakinkan?”

“Apa yang bisa kita periksa lain kali?”

Anak belajar lebih baik ketika merasa aman untuk mengakui kesalahan.

Gunakan aturan sederhana: berhenti, periksa, bandingkan

Ajarkan tiga langkah:

1. Berhenti

Jangan langsung percaya atau membagikan.

2. Periksa

Lihat sumber, tanggal, penulis, bukti, dan konteks.

3. Bandingkan

Cari informasi dari sumber lain yang dapat dipercaya.

Tiga langkah ini dapat digunakan anak ketika menghadapi berita, video, gambar, pesan berantai, atau informasi dari media sosial.

Lima pertanyaan sebelum mempercayai informasi

Ajarkan anak bertanya:

  1. Siapa yang membuat informasi ini?

  2. Dari mana sumbernya?

  3. Apa bukti yang diberikan?

  4. Apakah sumber lain yang terpercaya mengatakan hal yang sama?

  5. Apakah seseorang sedang mencoba membuat saya takut, marah, membayar, atau segera membagikannya?

Jika jawabannya belum jelas, jangan buru-buru percaya.

Lima pertanyaan sebelum membagikan

Sebelum menekan tombol kirim atau bagikan, tanyakan:

  1. Apakah saya tahu informasi ini benar?

  2. Apakah sumbernya dapat dipercaya?

  3. Apakah informasi masih sesuai dengan konteks dan tanggalnya?

  4. Apakah membagikannya dapat merugikan atau mempermalukan seseorang?

  5. Apakah saya tetap akan membagikannya jika nama saya tercantum sebagai orang yang menyebarkan?

Jika ragu, berhenti.

Yang perlu diingat

Kemampuan menggunakan internet bukan hanya kemampuan mencari informasi, tetapi juga kemampuan memeriksa informasi.

Ajarkan anak untuk tidak langsung percaya pada judul, foto, video, suara, akun populer, atau jawaban AI hanya karena terlihat meyakinkan.

Berhenti.

Periksa sumber.

Lihat konteks.

Bandingkan dengan sumber lain.

Dan jika belum yakin, jangan ikut menyebarkan.

Tujuan kita bukan membuat anak mencurigai semua informasi.

Tujuannya adalah membantu anak menjadi pengguna digital yang ingin tahu, kritis, bertanggung jawab, dan tetap terbuka terhadap bukti yang lebih baik.