Disiplin bukan kekerasan

Anak membutuhkan aturan dan batas.

Aturan membantu anak memahami apa yang aman, apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, dan bagaimana hidup bersama orang lain.

Namun, mendisiplinkan anak tidak berarti menyakiti, menakut-nakuti, mempermalukan, atau merendahkan anak.

Disiplin seharusnya membantu anak belajar.

Kekerasan membuat anak takut, tetapi rasa takut tidak sama dengan pemahaman.

Apa tujuan disiplin?

Tujuan disiplin bukan membuat anak selalu patuh tanpa bertanya.

Disiplin membantu anak:

  • memahami aturan;

  • mengenali akibat dari tindakannya;

  • belajar mengendalikan perilaku;

  • memahami perasaan orang lain;

  • bertanggung jawab;

  • memperbaiki kesalahan; dan

  • mengembangkan kemampuan mengambil keputusan.

Disiplin adalah proses belajar yang berlangsung bertahap.

Kemampuan anak memahami dan mengikuti aturan berkembang sesuai usia dan tahap perkembangannya.

Disiplin berbeda dengan hukuman

Disiplin berfokus pada pembelajaran.

Hukuman sering kali berfokus pada membuat anak menderita karena kesalahannya.

Misalnya, ketika anak menumpahkan air, tujuan orang dewasa seharusnya bukan membuat anak merasa malu.

Anak dapat diajak membersihkan air yang tumpah dan belajar lebih berhati-hati.

Anak belajar bahwa tindakannya mempunyai akibat dan bahwa kesalahan dapat diperbaiki.

Kekerasan bukan cara mendisiplinkan

Memukul, menampar, menendang, mencubit dengan keras, atau menggunakan tindakan fisik lain bukan cara yang aman untuk mendisiplinkan anak.

Menghina, mempermalukan, mengancam, meneriaki secara merendahkan, atau mengatakan bahwa anak tidak berharga juga bukan bentuk disiplin yang sehat.

Ucapan seperti “kamu bodoh”, “kamu memang nakal”, atau “tidak ada yang suka anak seperti kamu” dapat melukai anak.

Perilaku anak dapat dikoreksi tanpa menyerang harga dirinya.

Bedakan anak dari perilakunya

Anak bukan perilakunya.

Anak dapat melakukan sesuatu yang tidak tepat tanpa menjadi “anak nakal”.

Alih-alih mengatakan:

“Kamu memang nakal.”

Katakan:

“Memukul teman tidak boleh karena dapat menyakitinya.”

Kalimat seperti ini membantu anak memahami perilaku yang perlu diperbaiki tanpa merendahkan dirinya sebagai pribadi.

Buat aturan yang sederhana

Anak lebih mudah mengikuti aturan yang jelas dan mudah dipahami.

Hindari terlalu banyak aturan sekaligus.

Utamakan aturan yang berkaitan dengan keselamatan, penghormatan kepada orang lain, dan kehidupan bersama.

Misalnya:

  • kita tidak saling memukul;

  • mainan dikembalikan setelah digunakan;

  • berjalan saat berada di tempat yang berbahaya untuk berlari;

  • berbicara tanpa menghina; dan

  • meminta bantuan jika kesulitan.

Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia anak.

Jelaskan alasan aturan

Anak lebih mudah belajar ketika memahami mengapa suatu aturan dibuat.

Daripada hanya mengatakan:

“Tidak boleh!”

Jelaskan secara singkat:

“Jangan berlari di jalan karena ada kendaraan dan kamu bisa terluka.”

Penjelasan tidak harus panjang.

Yang penting, anak memahami hubungan antara aturan dan keselamatan atau hak orang lain.

Konsisten tanpa menjadi kaku

Aturan perlu diterapkan secara konsisten.

Jika suatu perilaku tidak diperbolehkan hari ini, anak akan bingung jika besok perilaku yang sama dibiarkan tanpa penjelasan.

Namun, konsisten bukan berarti tidak boleh mempertimbangkan keadaan anak.

Anak yang lelah, sakit, takut, atau sedang menghadapi perubahan mungkin membutuhkan bantuan yang berbeda.

Aturan tetap dapat dijaga sambil mempertimbangkan kebutuhan anak.

Sesuaikan harapan dengan usia anak

Tidak semua perilaku yang dianggap sulit merupakan kenakalan.

Sebagian merupakan bagian dari perkembangan.

Anak kecil masih belajar menunggu, mengendalikan dorongan, berbagi, mengelola emosi, dan memahami sudut pandang orang lain.

Jangan menuntut kemampuan yang belum sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Sebelum memberi konsekuensi, tanyakan apakah anak memang sudah mampu memahami dan melakukan apa yang diharapkan.

Perhatikan penyebab di balik perilaku

Perilaku anak dapat menjadi cara menyampaikan kebutuhan.

Anak mungkin menjadi mudah marah karena lapar, lelah, takut, kewalahan, atau kesulitan menjelaskan perasaannya.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Bagaimana menghentikan perilaku ini?”

Tanyakan juga:

“Apa yang sedang terjadi pada anak?”

Memahami penyebab tidak berarti membenarkan perilaku yang membahayakan.

Pemahaman membantu orang dewasa memilih respons yang lebih tepat.

Tetapkan batas dengan tenang

Ketika anak melakukan sesuatu yang tidak aman atau merugikan orang lain, orang dewasa perlu bertindak.

Batas dapat diberikan dengan tegas tanpa kekerasan.

Misalnya:

“Aku tidak akan membiarkan kamu memukul.”

Kemudian bantu menghentikan perilaku dengan cara yang aman.

Setelah keadaan lebih tenang, bantu anak memahami apa yang terjadi dan apa yang dapat dilakukan lain kali.

Bantu anak mengenali emosi

Anak perlu belajar bahwa semua perasaan dapat dibicarakan, tetapi tidak semua tindakan dapat dilakukan.

Anak boleh marah.

Namun, anak tidak boleh menyakiti orang lain karena marah.

Orang dewasa dapat mengatakan:

“Kamu sedang marah. Marah boleh. Memukul tidak boleh.”

Kalimat seperti ini mengakui perasaan anak sekaligus memberikan batas yang jelas terhadap perilakunya.

Berikan pilihan yang terbatas

Pilihan dapat membantu anak merasa dilibatkan tanpa menghilangkan batas.

Misalnya:

“Kamu mau merapikan balok dulu atau buku dulu?”

Kedua pilihan tetap menuju tujuan yang sama, yaitu merapikan.

Pilihan sebaiknya sederhana dan benar-benar dapat diterima oleh orang dewasa.

Jangan memberikan pilihan palsu yang sebenarnya tidak boleh dipilih anak.

Gunakan konsekuensi yang berkaitan dengan perilaku

Konsekuensi yang baik membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya.

Jika anak menumpahkan sesuatu, ia dapat membantu membersihkannya.

Jika mainan digunakan dengan cara yang membahayakan, penggunaan mainan dapat dihentikan sementara sampai anak siap menggunakannya dengan aman.

Hindari konsekuensi yang tidak berkaitan dengan perilaku hanya untuk membuat anak menderita.

Tujuannya adalah belajar, bukan membalas.

Beri kesempatan untuk memperbaiki

Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.

Anak perlu mendapat kesempatan memperbaiki akibat perilakunya.

Misalnya:

  • meminta maaf ketika sudah siap;

  • membantu memperbaiki barang yang dirusak;

  • membantu membersihkan sesuatu yang dikotori;

  • mencoba kembali dengan cara yang lebih baik; atau

  • memikirkan tindakan yang dapat membantu orang yang dirugikan.

Memperbaiki kesalahan mengajarkan tanggung jawab lebih baik daripada sekadar membuat anak takut dihukum.

Orang dewasa juga perlu mengelola emosi

Mendisiplinkan anak menjadi lebih sulit ketika orang dewasa sedang sangat marah.

Jika keadaan aman, orang dewasa dapat mengambil waktu singkat untuk menenangkan diri sebelum berbicara.

Hindari mengambil keputusan ketika emosi sedang sangat tinggi.

Menjaga ketenangan bukan berarti membiarkan perilaku yang salah.

Ketenangan membantu orang dewasa memberikan batas dengan lebih aman dan jelas.

Jika orang dewasa melakukan kesalahan

Orang dewasa juga dapat kehilangan kesabaran.

Jika orang dewasa berteriak, berkata kasar, atau bereaksi dengan cara yang tidak tepat, akui kesalahan tersebut.

Meminta maaf kepada anak tidak mengurangi kewibawaan.

Sebaliknya, anak belajar bahwa semua orang bertanggung jawab atas perilakunya.

Orang dewasa dapat mengatakan:

“Tadi saya berbicara terlalu keras. Itu tidak tepat. Saya minta maaf.”

Kemudian tetap jelaskan aturan yang perlu dipatuhi.

Disiplin di satuan pendidikan

Prinsip yang sama berlaku di sekolah dan layanan pendidikan anak usia dini.

Aturan kelas perlu:

  • jelas;

  • mudah dipahami;

  • sesuai usia;

  • diterapkan secara adil;

  • tidak mempermalukan anak;

  • tidak menggunakan kekerasan;

  • mempertimbangkan kebutuhan individual; dan

  • membantu anak memperbaiki perilaku.

Mengeluarkan anak dari kegiatan, mempermalukannya di depan teman, atau memberi label buruk dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.

Fokuslah pada perilaku dan kebutuhan dukungan anak.

Lima pertanyaan sebelum memberikan konsekuensi

Sebelum memberikan konsekuensi kepada anak, tanyakan:

  1. Apakah anak memahami aturan yang dilanggar?

  2. Apakah harapan saya sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya?

  3. Apakah ada kebutuhan atau keadaan yang memengaruhi perilakunya?

  4. Apakah respons saya membantu anak belajar atau hanya membuatnya takut?

  5. Apakah martabat dan keselamatan anak tetap terjaga?

Jika jawaban terakhir adalah tidak, cara mendisiplinkan perlu diubah.

Yang perlu diingat

Disiplin bertujuan mengajar, bukan menyakiti.

Anak membutuhkan batas yang jelas, tetapi batas tidak harus diberikan melalui ketakutan.

Orang dewasa dapat bersikap tegas sekaligus menghormati anak.

Disiplin yang baik membantu anak memahami aturan, mengenali emosi, bertanggung jawab, memperbaiki kesalahan, dan secara bertahap belajar mengatur perilakunya sendiri.