Anak dengan disabilitas adalah anak terlebih dahulu

Anak dengan disabilitas memiliki hak yang sama dengan anak lainnya.

Anak berhak belajar.

Anak berhak bermain.

Anak berhak mempunyai teman.

Anak berhak didengar.

Anak berhak merasa aman.

Anak juga berhak menjadi bagian dari lingkungan pendidikan.

Disabilitas tidak mengurangi martabat, nilai, atau hak seorang anak.

Karena itu, dukungan sebaiknya dimulai dengan mengenal anak sebagai individu, bukan hanya mengenal diagnosis atau kondisi yang dimilikinya.

Jangan hanya melihat apa yang belum dapat dilakukan

Ketika mengetahui seorang anak memiliki disabilitas, orang dewasa mudah berfokus pada keterbatasannya.

Padahal, setiap anak juga memiliki:

  • kemampuan;

  • minat;

  • cara berkomunikasi;

  • kesukaan;

  • hubungan yang penting;

  • hal yang membuatnya nyaman; dan

  • cara belajar yang lebih sesuai.

Mulailah dari pertanyaan:

“Apa yang sudah dapat dilakukan anak?”

“Apa yang disukai anak?”

“Dukungan apa yang membuat anak lebih mudah berpartisipasi?”

Kekuatan anak dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan lainnya.

Diagnosis tidak menjelaskan seluruh diri anak

Dua anak dengan diagnosis yang sama tidak selalu membutuhkan dukungan yang sama.

Mereka dapat mempunyai kemampuan, kebutuhan, kepribadian, minat, dan cara berkomunikasi yang berbeda.

Karena itu, jangan membuat kesimpulan tentang kemampuan anak hanya berdasarkan nama diagnosis.

Kenali anak secara langsung.

Amati bagaimana anak belajar, bermain, berkomunikasi, dan merespons lingkungannya.

Tujuan dukungan adalah partisipasi

Dukungan tidak seharusnya hanya bertujuan membuat anak terlihat sama dengan anak lain.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah anak dapat berpartisipasi?”

Partisipasi berarti anak memperoleh kesempatan untuk:

  • bermain;

  • belajar;

  • memilih;

  • berkomunikasi;

  • berinteraksi;

  • membuat keputusan sederhana;

  • mempunyai teman; dan

  • menjadi bagian dari kelompok.

Anak tidak harus melakukan semuanya dengan cara yang sama.

Kehadiran saja belum cukup

Seorang anak dapat terdaftar di PAUD tetapi tetap mengalami pengucilan.

Misalnya, anak selalu duduk terpisah.

Anak selalu ditemani orang dewasa tetapi jarang bermain dengan teman.

Anak dikeluarkan dari kegiatan tertentu karena dianggap tidak mampu.

Atau anak hanya menonton ketika teman lain bermain.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah anak hadir?”

Tanyakan juga:

“Apakah anak benar-benar terlibat?”

Cari hambatan di lingkungan

Ketika anak mengalami kesulitan, jangan langsung menganggap anak sebagai masalah.

Periksa lingkungannya.

Hambatan dapat berupa:

  • pintu atau ruang yang sulit diakses;

  • meja atau alat yang tidak sesuai;

  • suara terlalu bising;

  • cahaya terlalu kuat;

  • instruksi terlalu panjang;

  • kegiatan terlalu cepat;

  • tidak tersedia alat bantu;

  • hanya ada satu cara untuk menjawab;

  • aturan terlalu kaku; atau

  • sikap orang dewasa dan teman yang merendahkan.

Banyak hambatan dapat dikurangi melalui perubahan lingkungan.

Penyesuaian membantu anak mendapatkan kesempatan yang adil

Sebagian anak membutuhkan penyesuaian.

Misalnya:

  • tambahan waktu;

  • bantuan visual;

  • instruksi lebih pendek;

  • tempat duduk tertentu;

  • ruang yang lebih tenang;

  • alat dengan ukuran berbeda;

  • dukungan komunikasi;

  • waktu istirahat;

  • pilihan cara menyelesaikan kegiatan; atau

  • bantuan orang dewasa.

Penyesuaian bukan bentuk memanjakan.

Tujuannya adalah mengurangi hambatan agar anak dapat berpartisipasi.

Jangan menunggu anak mampu melakukan semuanya sendiri

Kemandirian penting.

Namun, kemandirian tidak berarti anak tidak boleh mendapat bantuan.

Bantuan yang tepat justru dapat membantu anak menjadi semakin mandiri.

Berikan dukungan sebanyak yang diperlukan.

Kemudian kurangi bantuan secara bertahap ketika anak sudah lebih mampu melakukannya sendiri.

Jangan memberikan terlalu sedikit bantuan.

Jangan pula mengambil alih semua hal yang sebenarnya dapat dicoba anak.

Berikan waktu

Sebagian anak membutuhkan waktu lebih lama untuk:

  • memahami pertanyaan;

  • memulai kegiatan;

  • berpindah aktivitas;

  • menjawab;

  • memilih;

  • atau menyelesaikan tugas.

Jangan langsung menganggap anak tidak mengetahui jawabannya.

Berikan waktu.

Tunggu respons.

Terkadang beberapa detik tambahan membuat anak dapat menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.

Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas

Instruksi panjang dapat sulit dipahami sebagian anak.

Gunakan kalimat pendek.

Berikan satu langkah terlebih dahulu jika diperlukan.

Misalnya, daripada mengatakan:

“Ambil buku, duduk di karpet, buka halaman pertama, lalu tunggu teman-teman.”

dapat dimulai dengan:

“Ambil bukunya.”

Setelah selesai:

“Sekarang duduk di karpet.”

Sesuaikan cara komunikasi dengan kebutuhan anak.

Gunakan dukungan visual jika membantu

Sebagian anak lebih mudah memahami informasi melalui gambar.

Dukungan visual dapat berupa:

  • gambar kegiatan;

  • kartu pilihan;

  • jadwal bergambar;

  • foto benda;

  • tanda sederhana;

  • urutan langkah; atau

  • simbol.

Dukungan visual bukan hanya untuk anak yang tidak berbicara.

Banyak anak dapat terbantu karena kegiatan menjadi lebih mudah diprediksi.

Komunikasi tidak selalu menggunakan ucapan

Anak dapat berkomunikasi dengan berbagai cara.

Misalnya melalui:

  • ucapan;

  • ekspresi wajah;

  • gerakan;

  • tatapan;

  • bahasa isyarat;

  • gambar;

  • simbol;

  • perangkat komunikasi; atau

  • cara lain.

Jangan menganggap anak tidak mempunyai pendapat hanya karena ia tidak menggunakan bahasa lisan seperti anak lain.

Perhatikan cara anak menyampaikan pilihan, penolakan, kenyamanan, dan kebutuhan.

Jangan memaksa anak berbicara jika ada cara komunikasi lain

Tujuan komunikasi adalah agar anak dapat menyampaikan dan memahami pesan.

Jika anak menggunakan gambar, isyarat, perangkat, atau cara lain, hormati cara tersebut.

Dukungan komunikasi tidak seharusnya ditahan sampai anak mampu berbicara.

Anak berhak mempunyai cara untuk menyampaikan kebutuhannya sekarang.

Berikan pilihan

Anak dengan disabilitas juga perlu mempunyai kesempatan membuat pilihan.

Pilihan dapat sederhana.

Misalnya:

“Kamu mau balok atau menggambar?”

“Duduk di kursi ini atau yang itu?”

“Mau mulai dari yang mana?”

Pilihan membantu anak belajar menyampaikan pendapat dan memiliki kendali yang sesuai terhadap kehidupan sehari-harinya.

Jangan selalu berbicara tentang anak tanpa melibatkan anak

Ketika keluarga, guru, atau tenaga profesional bertemu, pembicaraan sering hanya berlangsung di antara orang dewasa.

Jika sesuai dengan usia dan kemampuan anak, libatkan anak.

Tanyakan apa yang disukai.

Perhatikan responsnya.

Berikan penjelasan dalam bahasa yang dapat dipahami.

Anak bukan hanya objek yang sedang dibicarakan.

Anak adalah orang yang kehidupannya sedang dibahas.

Bermain bersama teman sangat penting

Anak dengan disabilitas membutuhkan kesempatan membangun hubungan dengan anak lain.

Jangan membuat seluruh waktunya hanya terdiri atas latihan bersama orang dewasa.

Berikan kesempatan untuk:

  • bermain bersama;

  • meniru teman;

  • membuat pilihan bersama;

  • berbagi kegiatan;

  • bekerja sama; dan

  • menikmati kebersamaan.

Hubungan dengan teman merupakan bagian penting dari pengalaman anak di PAUD.

Jangan menjadikan teman sebagai “terapis kecil”

Teman sebaya dapat membantu dan bermain bersama.

Namun, anak lain tidak seharusnya diberi tanggung jawab utama untuk menjaga atau menangani kebutuhan temannya.

Bantu hubungan terjadi secara alami.

Anak dengan disabilitas juga perlu mempunyai kesempatan memberi bantuan, berbagi ide, dan berkontribusi.

Hubungan yang inklusif bersifat dua arah.

Perhatikan akses fisik

Lihat lingkungan dari sudut pandang anak.

Tanyakan:

  • dapatkah anak masuk ke ruangan;

  • dapatkah anak mencapai toilet;

  • dapatkah anak menggunakan meja;

  • dapatkah anak mengambil mainan;

  • dapatkah anak bergerak dengan aman;

  • dapatkah anak mengikuti kegiatan luar ruangan; dan

  • apakah jalur cukup aman bagi alat bantu yang digunakan?

Aksesibilitas perlu dipikirkan sejak awal, bukan setelah anak mengalami kesulitan.

Perhatikan akses terhadap bermain

Anak mungkin dapat masuk ke ruang bermain tetapi tetap tidak dapat menggunakan permainan yang tersedia.

Pertimbangkan:

  • tinggi meja;

  • ukuran alat;

  • cara memegang;

  • kebutuhan gerak;

  • posisi tubuh;

  • suara;

  • aturan permainan; dan

  • cara berpartisipasi.

Kadang-kadang perubahan sederhana memungkinkan anak bermain bersama teman lainnya.

Perhatikan kebutuhan sensorik

Sebagian anak lebih sensitif terhadap suara, cahaya, sentuhan, bau, gerakan, atau suasana ramai.

Anak lain mungkin membutuhkan lebih banyak gerak atau rangsangan.

Perhatikan pola.

Jika anak sering kewalahan, pertimbangkan:

  • mengurangi suara;

  • memberikan tempat yang lebih tenang;

  • mengatur pencahayaan;

  • memberikan waktu istirahat;

  • memperbolehkan gerakan;

  • atau menyesuaikan kegiatan.

Jangan langsung menyebut respons sensorik sebagai perilaku buruk.

Perilaku dapat menyampaikan kebutuhan

Ketika anak menangis, berteriak, menjauh, menutup telinga, menolak, atau meninggalkan kegiatan, orang dewasa dapat merasa harus segera menghentikan perilaku tersebut.

Namun, perilaku dapat menjadi bentuk komunikasi.

Tanyakan:

“Apa yang terjadi sebelum perilaku ini?”

“Apa yang mungkin dibutuhkan anak?”

“Apakah anak kewalahan?”

“Apakah anak memahami kegiatan?”

Memahami penyebab membantu memilih respons yang lebih tepat.

Utamakan keselamatan tanpa menggunakan kekerasan

Anak dengan disabilitas tetap berhak mendapat perlindungan dari kekerasan.

Kesulitan komunikasi atau perilaku bukan alasan untuk:

  • memukul;

  • mencubit;

  • mengikat;

  • mempermalukan;

  • mengancam;

  • mengisolasi sebagai hukuman; atau

  • menggunakan tindakan lain yang merendahkan martabat.

Jika terdapat perilaku yang membahayakan, fokuslah pada keselamatan, penyebab, dan dukungan yang diperlukan.

Hindari pengucilan sebagai jalan mudah

Jangan mengatakan:

“Lebih baik dia tidak ikut karena akan merepotkan.”

atau:

“Biarkan dia di ruangan lain supaya kelas lebih tenang.”

Jika suatu kegiatan sulit diikuti, periksa apa yang dapat diubah.

Pengucilan seharusnya bukan solusi pertama terhadap kesulitan pendampingan.

Jangan membuat asumsi tentang kemampuan belajar

Seorang anak mungkin sulit berbicara tetapi memahami banyak hal.

Anak mungkin sulit menulis tetapi mampu menjawab dengan cara lain.

Anak mungkin tidak menatap wajah tetapi tetap mendengarkan.

Jangan menyimpulkan kemampuan berpikir hanya dari satu bentuk perilaku.

Berikan lebih dari satu cara kepada anak untuk menunjukkan apa yang diketahui.

Bekerja sama dengan keluarga

Keluarga memiliki pengalaman penting tentang anak.

Tanyakan:

  • bagaimana anak biasanya berkomunikasi;

  • apa yang disukai;

  • apa yang membuat anak tidak nyaman;

  • dukungan apa yang berhasil di rumah;

  • alat apa yang digunakan;

  • bagaimana rutinitas anak; dan

  • apa yang menjadi prioritas keluarga.

Hubungan antara PAUD dan keluarga sebaiknya menjadi kemitraan.

Jangan membuat keluarga merasa anaknya menjadi masalah bagi lembaga.

Hargai pengetahuan keluarga tanpa membebani mereka

Keluarga dapat menjadi sumber informasi penting.

Namun, jangan menyerahkan seluruh tanggung jawab inklusi kepada keluarga.

Satuan pendidikan juga perlu belajar, menyesuaikan lingkungan, dan mencari dukungan.

Pesannya bukan:

“Kalau ingin anak diterima, orang tua harus menyediakan semuanya.”

Inklusi adalah tanggung jawab bersama.

Kerja sama dengan tenaga profesional jika diperlukan

Sebagian anak mungkin mendapat dukungan dari tenaga kesehatan, terapis, psikolog, atau tenaga profesional lainnya.

Dengan memperhatikan privasi dan kepentingan anak, komunikasi antarpihak dapat membantu menyelaraskan dukungan.

Namun, PAUD tetap merupakan tempat anak belajar dan bermain.

Jangan menjadikan seluruh kegiatan sehari-hari anak sebagai sesi terapi.

Anak tetap membutuhkan pengalaman masa kanak-kanak.

Tujuan dukungan perlu bermakna

Dukungan sebaiknya berkaitan dengan kehidupan nyata anak.

Misalnya:

  • mampu meminta bantuan;

  • dapat ikut bermain;

  • dapat menyampaikan pilihan;

  • lebih mandiri dalam kegiatan sehari-hari;

  • merasa aman saat berpindah kegiatan;

  • dapat berkomunikasi dengan teman; atau

  • dapat mengikuti kegiatan kelas.

Tujuan yang bermakna membantu anak berpartisipasi lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

Hargai kemajuan kecil

Perkembangan tidak selalu terjadi melalui perubahan besar.

Bagi seorang anak, kemajuan dapat berupa:

  • mulai menunjuk untuk memilih;

  • bertahan lebih lama dalam kegiatan;

  • mendekati teman;

  • mencoba alat baru;

  • meminta bantuan;

  • mengikuti satu langkah instruksi; atau

  • mulai nyaman berada dalam kelompok.

Kemajuan kecil tetap berarti.

Jangan hanya menghargai pencapaian yang sama dengan anak lain.

Cegah perundungan dan diskriminasi

Anak dengan disabilitas dapat menghadapi ejekan atau pengucilan.

Orang dewasa perlu bertindak jika melihat:

  • julukan yang merendahkan;

  • peniruan yang bertujuan mengejek;

  • pengucilan;

  • pengambilan alat bantu;

  • penolakan bermain;

  • atau perlakuan tidak adil lainnya.

Jangan mengatakan:

“Namanya juga anak-anak.”

Gunakan kejadian sebagai kesempatan mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan.

Jaga privasi anak

Informasi mengenai diagnosis, kesehatan, terapi, atau kebutuhan dukungan merupakan informasi pribadi.

Tidak semua orang perlu mengetahuinya.

Bagikan hanya informasi yang memang diperlukan untuk mendukung dan melindungi anak.

Jangan membicarakan kondisi anak di depan orang tua lain tanpa kebutuhan.

Jangan menggunakan cerita anak sebagai contoh di media sosial tanpa perlindungan yang memadai.

Jangan menggunakan anak sebagai bahan inspirasi

Anak dengan disabilitas tidak perlu dipuji secara berlebihan hanya karena melakukan kegiatan sehari-hari.

Hindari menjadikan anak sebagai konten untuk membuat orang lain merasa terharu.

Tanyakan:

“Apakah publikasi ini benar-benar untuk kepentingan anak?”

Martabat dan privasi anak lebih penting daripada mendapatkan perhatian.

Pendidik tidak harus mengetahui semuanya

Pendidik mungkin belum pernah mendampingi anak dengan kebutuhan tertentu.

Tidak mengetahui semuanya bukan berarti anak harus ditolak.

Pendidik dapat:

  • belajar;

  • bertanya kepada keluarga;

  • meminta dukungan;

  • mengamati;

  • mencoba penyesuaian;

  • mengevaluasi; dan

  • bekerja sama dengan pihak lain.

Inklusi adalah proses belajar bagi seluruh lingkungan.

Delapan pertanyaan untuk merencanakan dukungan

Tanyakan:

  1. Apa kekuatan dan minat anak?

  2. Bagaimana anak berkomunikasi?

  3. Kegiatan apa yang ingin dan perlu diikuti anak?

  4. Hambatan apa yang membuat partisipasi sulit?

  5. Penyesuaian apa yang dapat dilakukan?

  6. Apa yang sudah berhasil menurut anak dan keluarga?

  7. Apakah anak mempunyai kesempatan bermain dan berhubungan dengan teman?

  8. Apakah dukungan kita meningkatkan kemandirian dan partisipasi anak?

Pertanyaan ini membantu memindahkan fokus dari kekurangan anak menuju dukungan yang nyata.

Yang perlu diingat

Anak dengan disabilitas tidak perlu menjadi sama dengan anak lain untuk berhak menjadi bagian dari PAUD.

Kenali anak.

Lihat kekuatannya.

Kurangi hambatan.

Berikan penyesuaian yang diperlukan.

Hormati cara komunikasinya.

Libatkan keluarga.

Dengarkan anak.

Jaga privasi dan martabatnya.

Dan ukur keberhasilan bukan dari seberapa mirip anak dengan teman-temannya, tetapi dari apakah anak semakin mampu belajar, bermain, berkomunikasi, membangun hubungan, membuat pilihan, dan berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.