Anak berhak didengar
Anak memiliki hak untuk menyampaikan pandangannya tentang hal-hal yang memengaruhi kehidupannya.
Pandangan anak perlu didengar dan dipertimbangkan sesuai usia dan tingkat kematangannya.
Hak untuk didengar bukan berarti anak harus menentukan semua keputusan. Orang dewasa tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan, memenuhi kebutuhan, dan mempertimbangkan kepentingan terbaik anak.
Yang penting, keputusan tentang anak tidak dibuat seolah-olah pandangan anak tidak berarti.
Mengapa mendengarkan anak penting?
Mendengarkan anak membantu orang dewasa memahami apa yang dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan, atau dikhawatirkan anak.
Anak juga dapat memiliki informasi tentang dirinya yang tidak diketahui orang dewasa.
Ketika anak diberi kesempatan untuk berbicara dan merasa didengar, orang dewasa dapat mengambil keputusan dengan pemahaman yang lebih utuh.
Mendengarkan anak juga menunjukkan bahwa anak dihargai sebagai manusia dan sebagai pemegang hak.
Mendengar tidak sama dengan selalu mengikuti keinginan anak
Anak boleh mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang dewasa.
Pandangan itu perlu didengar dengan sungguh-sungguh. Namun, mendengarkan anak tidak berarti semua keinginannya harus selalu dipenuhi.
Orang dewasa tetap perlu mempertimbangkan keselamatan, hak, kebutuhan, usia, perkembangan, keadaan anak, dan dampak suatu keputusan.
Jika keputusan akhirnya berbeda dari keinginan anak, jelaskan alasannya dengan bahasa yang dapat dipahami anak.
Bagaimana cara mendengarkan anak dengan baik?
Orang dewasa dapat memulai dengan langkah sederhana:
pilih waktu dan tempat yang membuat anak merasa aman;
beri anak kesempatan berbicara tanpa terburu-buru;
dengarkan tanpa langsung menyalahkan atau menghakimi;
gunakan bahasa yang mudah dipahami anak;
hindari mempermalukan, menertawakan, atau meremehkan pendapat anak;
ajukan pertanyaan seperlunya tanpa menekan anak;
pertimbangkan pandangan anak sebelum mengambil keputusan; dan
jelaskan kembali keputusan yang diambil dan alasannya.
Anak tidak harus berbicara dengan cara seperti orang dewasa agar dapat didengar.
Yang penting adalah orang dewasa memberi ruang yang sesuai dengan usia, kemampuan, dan keadaan anak.
Dalam hal apa anak perlu didengar?
Anak perlu diberi kesempatan menyampaikan pandangannya ketika suatu keputusan memengaruhi dirinya.
Misalnya:
aturan di rumah yang langsung berkaitan dengan anak;
pilihan kegiatan belajar atau kegiatan sehari-hari;
pengalaman anak di sekolah atau satuan pendidikan;
kebutuhan dukungan bagi anak dengan disabilitas;
keputusan mengenai kesehatan dan perawatan anak sesuai keadaan dan usianya;
perubahan yang berpengaruh pada kehidupan anak; dan
layanan atau kebijakan yang secara langsung berdampak pada anak.
Cara melibatkan anak tentu perlu disesuaikan dengan usia, kematangan, kebutuhan, dan situasinya.
Hindari mendengar anak hanya sebagai formalitas
Mengajukan pertanyaan kepada anak belum tentu berarti anak benar-benar didengar.
Anak belum sungguh-sungguh dilibatkan jika orang dewasa sudah mengambil keputusan sejak awal dan sama sekali tidak mempertimbangkan apa yang dikatakan anak.
Partisipasi anak perlu mempunyai makna.
Artinya, anak diberi informasi yang cukup, kesempatan untuk menyampaikan pandangan, perlakuan yang menghormati martabatnya, serta penjelasan tentang bagaimana pandangannya dipertimbangkan.
Bagaimana dengan anak usia dini?
Usia yang masih muda bukan alasan untuk mengabaikan pandangan anak.
Anak usia dini mungkin belum selalu mampu menjelaskan pikirannya dengan kalimat panjang. Karena itu, orang dewasa perlu mendengarkan dan berkomunikasi dengan cara yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Kesabaran, bahasa yang sederhana, suasana yang aman, dan hubungan yang penuh hormat membantu anak menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkannya.
Orang dewasa juga perlu berhati-hati agar tidak menafsirkan perilaku anak secara berlebihan. Jika sesuatu belum jelas, jangan menebak seolah-olah kita mengetahui pasti apa yang dimaksud anak.
Empat pertanyaan untuk orang dewasa
Sebelum mengambil keputusan yang berdampak pada anak, tanyakan:
Apakah anak sudah mendapat informasi yang dapat dipahaminya?
Apakah anak sudah diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangannya?
Apakah saya benar-benar mempertimbangkan pandangan anak?
Apakah saya sudah menjelaskan keputusan dan alasannya kepada anak?
Pertanyaan sederhana ini membantu memastikan bahwa mendengarkan anak bukan sekadar formalitas.
Yang perlu diingat
Anak berhak didengar, tetapi anak tidak dibebani tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa.
Tugas orang dewasa adalah menciptakan ruang yang aman, mendengarkan dengan hormat, mempertimbangkan pandangan anak, dan tetap mengambil tanggung jawab atas keputusan yang melindungi hak serta kepentingan terbaik anak.